Mengenal Growth Mindset, Pola Pikir yang Membuat Kamu Lebih Sukses dan Bahagia!
5 min read
Otak merupakan mesin berpikir. Kita menggunakan otak untuk banyak sekali aktivitas. Bahkan, boleh dibilang semua aktivitas yang kita lakukan membutuhkan peran otak, baik yang sadar maupun tidak sadar.
Sama seperti prosesor di dalam komputer yang mengolah. Otak pun melakukan pengolahan informasi yang diterima oleh indera kita. Otak adalah hardware di dalam tubuh kita. Selayaknya komputer yang membutuhkan hardware dan software, otak kita juga membutuhkan software.
Nah, software dalam otak adalah mindset, pola pikir, cara pandang, paradigma atau apapun itu, you name it. Untuk mempermudah banyaknya istilah, pada tulisan ini kami akan menyebutnya sebagai mindset.
Lalu, apa itu mindset? Ia adalah seperangkat kepercayaan yang membentuk cara kita memahami dunia dan diri sendiri. Mindset akan mempengaruhi cara kita berpikir, merasa dan berperilaku dalam situasi apapun.
Setiap orang bisa saja mengalami kejadian yang sama persis, tapi cara mereka mengolah informasi dan cara mereka menyikapinya sangat mungkin berbeda. Disinilah software otak atau mindset kita berperan.
Kamu pasti mengenal seseorang yang ketika mendapatkan persoalan yang rumit malah asyik untuk mencari cara memecahkannya. Atau mungkin ada juga temanmu yang langsung menyerah ketika menghadapi persoalan rumit.
Seorang Profesor psikologi dari Stanford University, Dr. Carol Dweck melakukan penelitian tentang mindset selama lebih dari 30. Awalnya, ia heran melihat anak kecil berusia 3 tahun yang menyikapi persoalan dengan berbeda.
Tipologi Mindset: Fixed dan Growth
Penelitian panjang Dr. Carol Dweck dipublikasikan ke dalam sebuah buku yang berjudul “Mindset”. Dweck menemukan bahwa terdapat dua jenis mindset pada manusia, yaitu fixed mindset dan growth mindset.
1. Fixed Mindset atau Pola Pikir Tetap
Orang yang memiliki fixed mindset menganggap bahwa bakat, kecerdasan, kemampuan, kapasitas diri bersifat tetap atau sudah dari sananya. Singkatnya, kita terlahir dengan bakat, kecerdasan dan kemampuan yang unik dan menetap.
Nah, fixed mindset menganggap bahwa pertumbuhan otak berhenti berkembang setelah mencapai usia dewasa. Jenis mindset ini menganggap bahwa kesuksesan seseorang sangat bergantung dari bakat yang dimilikinya.
Contohnya, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo menjadi pesepakbola terbaik hanya karena mereka berbakat.
Kembali ke studi panjang dari Dr. Carol Dweck, ia menemukan bahwa mereka yang mengadopsi fixed mindset biasanya menghindari tantangan dalam hidup, mudah menyerah dan merasa terintimidasi oleh kesuksesan orang lain.
Itu terjadi karena mereka merasa bahwa kesulitan dalam hidup sangat erat kaitannya dengan kemampuan diri. Kalau seseorang merasa kesulitan, berarti mereka tidak berbakat atau kurang cerdas untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Karena fixed mindset menganggap bahwa kecerdasan dan kemampuan adalah bakat dari lahir, mereka juga sering kali menghindari tantangan. Sebab, tantangan dianggap sebagai ujian untuk membuktikan kecerdasannya. Kalau gagal, hanya ada satu alasan yang bisa menjelaskan, yaitu kurang kecerdasan dan kemampuan.
Mereka yang mengadopsi fixed mindset juga sering kali termotivasi untuk membuktikan kecerdasannya. Siapa pula yang tidak mau dianggap istimewa? Jika berhasil, artinya kita memiliki kecerdasan dan kemampuan yang mumpuni.
Hal ini dapat terjadi hampir di setiap aspek kehidupan, termasuk dalam latar akademik, karier bahkan hubungan. Contohnya, dalam latar akademik mereka yang mendapatkan nilai rendah akhirnya kehilangan motivasi karena menganggap dirinya bodoh. Begitu pun dalam karier dan hubungan.
Dr. Carol Dweck juga menemukan bahwa mereka yang mengadopsi fixed mindset berpotensi lebih besar mengalami isu dalam mental health. Ini karena mereka mengasosiasikan kegagalan pada kurangnya kemampuan dirinya sendiri.
2. Growth Mindset atau Pola Pikir Tumbuh
Berbeda dari fixed mindset, growth mindset menganggap bahwa bakat, kemampuan, kecerdasan kapasitas diri bahkan kepribadian bisa berubah dan berkembang. Singkatnya, semua kapasitas dalam diri bisa berkembang seiring waktu tergantung dari usaha yang kita curahkan.
Growth mindset menganggap bahwa kesuksesan seseorang sangat tergantung dari usahanya. Bukan berarti setiap orang bisa menjadi Albert Einstein atau Cristiano Ronaldo, sangat banyak variabel yang berpengaruh. Namun, usaha adalah variabel yang sangat kuat yang dapat mengantarkan kita pada kesuksesan.
Contohnya, ketika sekolah Albert Einstein sering dianggap sebagai anak bodoh yang nakal. Sebelum menemukan lampu, Thomas Alfa Edison bahkan sudah gagal ribuan kali dalam eksperimennya. Cristiano Ronaldo bisa sangat handal mengolah bola bundar karena latihan ekstra kerasnya. Banyak sekali contohnya.
Dr. Carol Dweck menemukan bahwa mereka yang mengadopsi growth mindset menganggap bahwa setiap tantangan adalah kesempatan untuk mempelajari hal baru dan berkembang. Mereka sangat termotivasi untuk belajar dan mengembangkan diri.
Kesuksesan orang lain tidak mengintimidasi mereka. Hal ini justru membuat mereka ingin belajar dan mencari tahu alasan mengapa orang tersebut bisa sukses. “Jika orang lain bisa sukses, maka aku juga bisa!” begitu kata mereka yang mengadopsi growth mindset.
Ketika mengalami kesulitan, mereka merasa bahwa usaha yang dilakukan kurang keras atau mereka hanya belum menemukan strategi yang tepat untuk menyelesaikannya.
Karena growth mindset menganggap bahwa kecerdasan dan kemampuan diri bisa berkembang, mereka sangat termotivasi untuk belajar dan menyelesaikan masalah. Mereka tidak termotivasi untuk membuktikan diri sebagai yang paling cerdas atau paling hebat.
Fixed mindset dan growth mindset menyikapi kegagalan dengan sangat berbeda. Jika fixed mindset menganggap kegagalan sebagai bukti kebodohan, growth mindset justru merasa bahwa kegagalan adalah bukti dari kurang usaha atau strategi yang tidak tepat.
Selain menemukan bahwa orang yang memiliki growth mindset lebih berkemungkinan untuk berhasil, Dr. Carol Dweck juga menemukan bahwa mereka berpotensi lebih bahagia dan memiliki kehidupan rumah tangga yang berhasil.
Hal ini karena mereka menganggap ketidakcocokan dengan pasangan bukan karena perbedaan sifat yang tidak bisa didamaikan. Mereka menganggap bahwa kepribadian dan pola komunikasi bisa berubah dan itu sangat berpengaruh terhadap cara mereka menemukan solusi dari konflik rumah tangga. Yang biasanya memang tidak terhindarkan.

Mungkinkah Mengubah Mindset?
Kita seringkali diberitahu bahwa perkembangan otak berhenti ketika kita memasuki usia dewasa. Namun, penelitian terbaru di bidang neurosains mengatakan sebaliknya. Otak manusia memiliki sifat neuroplastisitas yang membuatnya bisa berubah secara struktural dan fungsional.
Jadi, iya otak kita bisa berkembang. Termasuk kecerdasan, kemampuan dan kepribadian kita yang memang adalah hasil dari kinerja otak kita.
Otak manusia memang jauh lebih unggul dibandingkan prosesor kita. Kalau ingin upgrade prosesor maka kita harus menggantinya dengan yang baru, kita tidak perlu mengganti otak kita jika ingin upgrade.
Penelitian membuktikan bahwa otak dapat mengembangkan koneksi baru, memperkuat daerah tertentu dan meningkatkan kecepatan koneksi antar jaringan. Sama seperti otot, otak juga bisa dilatih dengan berlatih. Semakin sering dilatih, maka otak kita akan semakin tajam.
Lalu, apakah kita bisa mengubah mindset? Tentunya bisa. Sama seperti software pada komputer. Kita bisa memilih aplikasi-aplikasi yang ingin di-install kan? Begitu pula dengan software di otak. Kita bisa meng-install mindset baru pada otak kita.
Mindset adalah kepercayaan seperangkat kepercayaan tentang dunia dan diri sendiri. Toh, banyak kok orang bisa berpindah agama karena mengalami perubahan kepercayaan.
Mengubah kepercayaan memang tidak mudah. Kepercayaan berasal dari informasi yang sudah tertanam sejak dini di dalam otak kita. Namun, bukan mustahil. Kamu bisa menanamkan kepercayan baru tentang growth mindset.
Lagi pula, kebenaran growth mindset sudah nyata terbukti secara ilmiah.
Kenapa Kita Perlu Mengadopsi Growth Mindset?



Okay. Selain sudah terbukti secara ilmiah bahwa otak bisa berkembang dan growth mindset jelas-jelas bisa memfasilitasi perkembangan itu, ternyata growth mindset memiliki sangat banyak manfaat untuk diri kita.
Dr. Carol Dweck menemukan bahwa growth mindset dapat berpengaruh positif terhadap motivasi dan performa akademik. Ya, penelitian Dweck memang lebih banyak dilakukan pada latar akademik. Namun, peningkatan performa akademik tidak berbeda jauh dengan performa kerja.
Meskipun dihadapkan dengan pelajaran sains dan matematika yang rumit, mereka yang mengadopsi growth mindset melaporkan bahwa mereka bisa menikmati pelajaran dengan senang.
Growth mindset juga baik untuk kesehatan mental. Mereka tidak mudah rendah diri karena merasa dirinya bodoh atau tidak berbakat. Mereka termotivasi untuk belajar dan menemukan strategi baru untuk menyelesaikan masalah.
Pola pikir ini juga terbukti dapat mengurangi burnout, masalah psikologis seperti depresi dan kecemasan hingga meningkatkan kebahagiaan.
Yang paling penting, growth mindset juga terbukti dapat meningkatkan performa dan produktivitas sehingga mereka yang mengadopsi growth mindset lebih berpeluang untuk meraih kesuksesan dan mendapatkan work life balance
Bagaimana Kita Bisa Menerapkan Growth Mindset?
Banyak peneliti yang menemukan bahwa sangat mungkin untuk mempromosikan dan menerapkan growth mindset dengan memberi tahu fakta dari neurosains yang menunjukkan bahwa otak memiliki sifat neuroplastisitas dan bisa berkembang dengan berlatih, belajar dan usaha.
Berikut cara yang bisa dilakukan untuk mengembangkan growth mindset:
1. Menyadari bahwa Secara Ilmiah Kamu bisa Berkembang
Salah satu metode paling langsung untuk menumbuhkan growth mindset adalah dengan memahami bahwa otak kita bisa tumbuh dan belajar. Menantang diri sendiri dengan pengalaman baru, kamu dapat membentuk atau memperkuat koneksi saraf untuk ‘meng-install ulang’ otak kamu yang dapat membuat kamu lebih pintar.
2. Menghapus Suara Fixed Mindset
Banyak orang memiliki suara hati yang negatif dan berlawanan dengan growth mindset. Ubahlah suara hati yang mengatakan “Aku tidak bisa mengerjakan ini” dengan “Aku bisa mengerjakan ini jika berlatih”.
Seperti di film animasi Luca yang mengatakan “Silencio, Bruno” yang berarti “Diam, otak!” ketika meragukan diri sendiri.
3. Berikan Hadiah pada Proses
Meskipun masyarakat sering memberi penghargaan kepada mereka yang mencapai hasil yang sangat baik, ini dapat bertentangan dengan growth mindset. Sebaliknya, hargai proses dan upaya yang dilakukan.
Satu studi oleh Dr. Carol Dweck menunjukkan bahwa upaya yang bermanfaat atas hasil yang baik dapat meningkatkan kinerja.
4. Dapatkan Feedback
Coba dan cari umpan balik tentang pekerjaan kamu. Ketika diberikan umpan balik dan kritik yang membangun tentang apa yang mereka lakukan dengan baik, hal tersebut dapat menciptakan motivasi untuk terus maju.
Umpan balik juga dikaitkan dengan respons dopamin yang menyenangkan dan meningkatkan growth mindset.
5. Keluar dari Zona Nyaman
Menjadi cukup berani untuk meninggalkan zona nyaman, kamu dapat membantu menumbuhkan growth mindset. Saat menghadapi tantangan, cobalah untuk memilih opsi yang lebih sulit yang memungkinkan kamu untuk berkembang.
6. Menerima Kegagalan sebagai Bagian dari Proses
Kegagalan, kemunduran, dan kebingungan awal adalah bagian dari proses pembelajaran! Saat mencoba sesuatu yang baru, lihat ‘kegagalan’ sesekali sebagai peluang belajar yang positif—coba nikmati proses penemuan di sepanjang jalan.
Nah, itulah growth mindset yang sangat kami rekomendasikan untuk diadopsi agar kamu bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Simak terus blog dan instagram Dompet Kilat untuk mendapatkan informasi seputar dunia kerja, keuangan, ekonomi, bisnis dan lain sebagainya.
Referensi:
Cogent Education (2018) | The Effects of a Growth Mindset on Self-Efficacy and Motivation
Frontiers (2009) | The Impact of Studying Brain Plasticity
Journal of Psychiatry and Neurosciences (2002) | Antidepressants and Neuroplasticity
Oxford Academic (2011) | Harnessing Neuroplasticity for Clinical Applications
Science Direct ( 2018) | Effects of Teaching The Concept of Neuroplasticity To Induce a Growth Mindset On Motivation, Achievement, and Brain Activity: A Meta-Analysis
Very Well Mind (2021) | What Is a Mindset and Why It Matters

