DK Blog

Dompet Kilat Blog

Resensi Kilat: Rich Dad Poor Dad karangan Robert Kiyosaki

5 min read
Rich Dad, Poor Dad adalah buku luar biasa yang tepat untuk kamu baca agar kecerdasan finansial meningkat dan mencapai financial freedom.

Saat liburan sekolah, Jimmy mengundang banyak temannya ke resort mewah milik orang tuanya. Hanya ada dua orang yang tidak diundang, yaitu Robert dan Mike. Alasan mereka tidak diundang cukup kejam: mereka berdua miskin.

Robert sakit hati dan bertanya dengan nada tinggi ke orang tuanya: “Bagaimana cara menjadi kaya?”

Ayahnya menjawab: “Cara menjadi kaya adalah dengan bekerja dan menghasilkan uang.”

Robert dan Mike mencoba bisnis kecil-kecilan namun gagal karena mereka diberitahu oleh ayah Robert bahwa yang dilakukannya adalah ilegal. Kemudian ayah Robert memberitahu mereka untuk belajar pada ayah Mike yang dikenalnya pandai menghasilkan uang.

Mike mengatur pertemuan dengan ayahnya untuk mau mengajari Robert dan Mike bagaimana caranya menjadi kaya. Ayah Jimmy yang kaya bekerja di perusahaan besar, ayah Robert bekerja di pemerintahan dan ayah Mike bekerja sebagai pengusaha.

Ayah Mike mengajarkan banyak hal pada Robert dan Mike tentang kecerdasan finansial. Bagaimana cara menjadi kaya, bagaimana cara untuk mengatur uang,  dan yang terpenting bagaimana cara berpikir seperti orang kaya.

Itulah sedikit cerita awal dari buku Rich Dad, Poor Dad. Sebuah buku klasik yang dikatakan sebagai bible untuk literasi finansial. Buku Rich Dad, Poor Dad yang dikarang Robert Kiyosaki merupakan pengalaman pribadi yang bermula dari keinginannya untuk menjadi kaya.

Kalau kamu ingin belajar tentang finansial, Rich Dad, Poor Dad adalah buku luar biasa yang tepat untuk kamu baca agar kecerdasan finansial meningkat dan mencapai financial freedom. Tim Dompet Kilat akan memberikan ulasan singkat tentang pelajaran penting yang ada di buku ini.

Ulasan Buku Rich Dad Poor Dad

Buku ini terbagi menjadi tiga bagian: Pendahuluan, Isi dan Penutup.

Pada bagian pendahuluan, Robert Kiyosaki mengkategorikan dua sudut pandang yang kontras terhadap masalah keuangan. Ia menganggap ayah Mike yang bekerja sebagai pengusaha sebagai Rich Dad dan ayahnya sendiri yang cerdas sebagai Poor Dad.

Di bagian pendahuluan, Robert menuliskan alasan orang kaya makin kaya dan kelas menengah terjebak dalam hutang. Singkatnya, hal ini disebabkan oleh cara pandang mereka tentang uang dan literasi finansial. Nah, kebanyakan dari kita tidak pernah mendapat pelajaran tentang literasi finansial.

Menurut Robert Kiyosaki, perbedaan cara pandang tentang uang memiliki konsekuensi yang besar. Contohnya, jika ditawari mobil mewah, pola pikir orang miskin akan menjawab bahwa “Ah, saya tidak akan mampu membelinya”. Sedangkan, pola pikir orang kaya akan menjawab “Gimana caranya biar saya bisa beli mobil itu?”. Meskipun saat itu mereka berdua pada kondisi finansial yang serupa.

Perbedaan sederhana itu menghasilkan output yang berbeda di otak. Jawaban pertama membuat otak pesimis dan tidak berpikir keras. Sedangkan, jawaban kedua membuat otak berpikir keras untuk mencapai hasil tersebut.

Pada bagian Isi, ada beberapa pelajaran berharga dalam buku ini. Sudah siap untuk mempelajarinya, Sob?

1.  Orang Kaya tidak Bekerja untuk Uang

Poor Dad mengatakan bahwa Robert harus belajar yang giat dan memperoleh nilai tinggi di sekolah agar bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus. Inilah pola pikir ayah Robert, sama seperti orang pada umumnya. Bekerja untuk mendapatkan uang.

Rich Dad setuju bahwa sekolah itu penting. Namun, yang lebih penting bukanlah memperoleh nilai yang tinggi, namun pelajaran yang diperoleh. Satu pelajaran penting dari ayah Mike adalah orang kaya tidak bekerja untuk mendapatkan uang.

Robert dan Mike meminta untuk diajari bagaimana caranya menjadi kaya oleh ayah Mike. Ayah Mike setuju dengan syarat mereka berdua harus bekerja di salah satu usaha ayah Mike dengan bayaran yang kecil.

Long story short, setelah bekerja selama 3 minggu, Robert kesal dan protes meminta kenaikan gaji. Bukannya mendapat kenaikan gaji, ayah Mike malah menawarkan Robert untuk tetap bekerja tanpa dibayar sama sekali. Di sinilah mereka berdua belajar tidak bekerja untuk uang.

Rich Dad tidak banyak berceramah tentang literasi finansial dan bagaimana memandang uang dalam kehidupan. Namun langsung membuat mereka merasakan “rasa kehidupan”. Suatu hari, Rich Dad mengajarkan mereka emosi dasar manusia saat dihadapkan dengan uang: ketakutan dan keserakahan.

Ketakutan membuat manusia bekerja karena takut tidak memiliki uang. Setelah mendapatkan uang, perasaan serakah muncul. Manusia mulai membeli barang-barang baru dan akhirnya terjebak dalam hutang. Lingkaran ini disebut sebagai Rat Race.

Mereka yang ingin menjadi kaya harus menggunakan pikirannya untuk mengendalikan kedua emosi tersebut.

2.  Belajar tentang Literasi Finansial

Pada bagian ini, Robert bercerita tentang beberapa orang kaya pada zamannya yang berakhir tragis. Ada CEO, direktur, spekulan pasar saham dan lain sebagainya. Mereka ini adalah orang-orang yang memiliki penghasilan luar biasa namun berakhir dengan hutang, kecanduan obat terlarang bahkan bunuh diri.

Toh, kita juga sering melihat artis atau atlet yang kaya mendadak malah berakhir tragis karena menghambur-hamburkan uangnya. Semua ini terjadi karena tidak memiliki literasi finansial yang baik.

Literasi finansial adalah fondasi. Kalau kamu ingin membangun gedung pencakar langit, maka kamu harus membuat fondasi yang dalam. Tanpa fondasi yang dalam, kamu tidak mungkin bisa membangun gedung bertingkat. 

Orang yang memiliki banyak uang tanpa memiliki literasi finansial yang kuat, akan bernasib seperti gedung bertingkat tanpa fondasi yang dalam: hancur. Jika kamu ingin menjadi kaya, maka hal paling tepat yang bisa dilakukan adalah membuat fondasi yang dalam.

Rich Dad menjelaskan peraturan sederhana untuk menjadi kaya, yaitu dengan membedakan aset dan beban. Secara sederhana, aset adalah sesuatu yang menghasilkan uang. Sedangkan beban adalah sesuatu yang membutuhkan pengeluaran.

Orang kaya membeli aset, orang miskin hanya memiliki beban pengeluaran dan orang kelas menengah membeli beban yang dikira aset. Bagi Rich Dad, rumah adalah beban. Sedangkan menurut Poor Dad, rumah adalah aset berharga.

Meskipun harga rumah akan terus naik, namun rumah membutuhkan banyak pengeluaran untuk perawatan, pajak dan lain sebagainya. Oleh karena itu menurut Rich Dad, rumah merupakan beban. Contoh aset adalah saham, obligasi, bisnis yang berjalan sendiri dan lain sebagainya. Sekali lagi, aset adalah sesuatu yang menghasilkan uang tanpa butuh pengeluaran berkala.

Setelah membedakan aset dan beban, ada 4 hal yang harus dipahami agar kecerdasan finansial meningkat, yaitu akuntansi, investasi, pasar dan hukum. Mempelajari keempat hal ini akan meningkatkan kecerdasan finansial kita.

3.      Pandai Melihat Peluang

Kebanyakan orang mengikuti solusi permasalahan kuno yaitu kerja keras, menabung dan meminjamkan uang. Di era yang berubah cepat, solusi semacam itu nampak sudah tidak relevan. Kita harus meningkatkan pengetahuan finansial sehingga mampu melihat peluang dan menciptakan keberuntungan kita sendiri.

Robert menceritakan pengalamannya menciptakan uang dari bisnis properti. Ia membeli rumah dengan harga murah kemudian menjualnya kembali dengan harga yang lebih tinggi hanya dalam beberapa bulan. Ia melakukannya karena melihat peluang pada saat krisis ekonomi.

Selain bisnis properti, ia juga memberikan contoh investasinya pada perusahaan kecil yang dikelola dengan baik hingga akhirnya menjadi perusahaan go public dan harga sahamnya naik berkali lipat.

Bagi mereka yang memiliki tingkat kecerdasan finansial yang tinggi, risiko adalah bentuk dari ketidaktahuan terhadap bagaimana sesuatu itu bekerja menghasilkan uang. Menurut Robert, kalau kita memahami bagaimana cara pasar bekerja menghasilkan uang, maka risiko menjadi semakin kecil.

Robert juga menjelaskan cara alamiah manusia untuk belajar, yaitu dengan mengalami kegagalan dan bangkit. Sama seperti saat balita belajar berjalan atau kita belajar mengendarai sepeda untuk pertama kalinya. Pasti kita akan mengalami kegagalan dengan terjatuh. Namun, lama kelamaan kita akan menjadi mahir.

Banyak orang takut mengalami kegagalan dan akhirnya tidak berani mencoba. Failures inspire winners. Failure defeats losers. Kegagalan menginspirasi pemenang, sedangkan kegagalan mengalahkan pecundang.

4.      Belajar tentang Pemasaran (Marketing)

Pada sebuah kesempatan, Robert diwawancara oleh seorang penulis handal. Penulis itu bertanya bagaimana caranya agar ia dapat menjual buku selaris Robert?

Robert menyarankan penulis tersebut untuk belajar tentang marketing. Namun, penulis tersebut malah merasa tersinggung. Ia merasa bahwa tidak ada gunanya mempelajari trik-trik marketing yang receh. Kegiatan pemasaran memang terkesan jauh dari kegiatan intelektual.

Namun, buku yang populer diberikan label “best-selling author” dan bukan “best-writing author”. Tidak ada gunanya membuat karya yang sempurna dan super bagus kalau tidak satu orang pun yang membacanya.

Robert menyatakan bahwa banyak sekali orang bertalenta tetapi dibayar rendah karena mereka tidak dapat memasarkan talenta mereka. Tidak ada orang yang tau tentang talenta mereka sehingga orang-orang itu hanya berkutat di situ-situ saja.

5.      Melawan Hambatan

Kita mengetahui bahwa hambatan terbesar dalam menguasai kemampuan finansial adalah diri kita sendiri. Kita ketakutan luar biasa jika kehilangan uang. Namun, di sisi lain ketika kita memiliki banyak uang, perasaan serakah muncul untuk terus belanja.

Alhasil, tidak banyak dari kita yang berani untuk bertaruh agar mendapatkan hasil yang lebih besar. Hal ini dikarenakan perasaan takut kehilangan uang jauh lebih dominan dibandingkan perasaan senang menjadi orang kaya.

Dari perasaan ketakutan ini kemudian muncul sifat-sifat lain seperti:

  • Sinisme

Sinis merupakan sikap tidak melihat kebaikan apapun dan meragukan sifat baik yang ada pada sesuatu. Saat berbicara soal investasi, orang-orang sinis akan mengatakan bahwa iklim investasi sedang tidak bagus dan kalau berinvestasi hari ini kita akan mengalami kerugian.

Untuk menghadapi sinisme, Robert memberikan contoh seorang kolonel bernama Harland Sanders yang ditolak lebih dari seribu kali saat menawarkan resep ayam gorengnya. Namun ia tetap berusaha, sekarang kita bisa melihat potret kakek tua di hampir setiap kota pada gerai KFC yang memakai resep Kolonel Sanders.

Ada banyak sekali kisah seperti Kolonel Sanders. Ada pula J.K Rowling, pengarang novel Harry Potter yang ditolak berkali-kali oleh penerbit. Kunci untuk melawan sinisme adalah terus mencoba. Kalau gagal, bangkit lagi dan perbaiki kekurangan sebelumnya.

  • Kemalasan

Kemalasan sebetulnya juga berakar dari perasaan takut. Kita malas berbicara soal keuangan karena takut diketahui orang lain kalau kondisi keuangan kita sedang tidak baik-baik saja. Malas adalah bentuk menghindar karena takut menghadapi sesuatu yang lebih penting.

Robert mencontohkan temannya yang menyibukkan diri bekerja luar biasa, padahal memiliki permasalahan rumah tangga. Bukannya memperbaiki rumah tangganya, ia memilih sibuk di kantor. Hingga suatu hari, istri dan anaknya tidak ada di rumah ketika ia pulang. Ya, mereka memilih pergi meninggalkan teman Robert tadi karena tidak menyelesaikan permasalahannya.

Saat ada tugas penting juga kita seringkali malas dan malah sibuk bermain sosial media. Hal ini disebabkan dari perasaan takut salah saat mengerjakan tugas tersebut. Buku ini memberikan resep untuk menghadapi rasa malas tersebut, yaitu dengan memiliki perasaan sedikit serakah. Sedikit saja ya.

Perasaan sedikit serakah ini bisa mendorong kita untuk melakukan sesuatu agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Namun, jangan terlalu serakah karena itu tidak baik.


Sebetulnya masih banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari buku ini. Kalau Sobat Kilat ingin mempelajarinya lebih lanjut langsung saja dibaca bukunya. Rich Dad Poor Dad adalah buku yang sangat menarik, mudah dipahami dan memberikan banyak insight praktis tentang keuangan.  

Ingin terus mendapat informasi seputar dunia keuangan? Ikuti terus blog Dompet Kilat. Kalau kamu tertarik dengan investasi di fintech peer-to-peer lending, kamu bisa memulai dengan menanamkan modal lewat aplikasi Dompet Kilat.

Penulis: Fadhel Yafie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.