Memahami Resesi Ekonomi: Definisi, Penyebab hingga Dampaknya

4 min read
resesi ekonomi adalah penurunan pertumbuhan ekonomi sebuah negara sepanjangdua kuartal

Pandemi COVID-19 memiliki dampak yang sangat besar terhadap perekonomian dunia. Beberapa negara di tahun 2020 kemarin mengumumkan bahwa mereka mengalami resesi ekonomi. Jika sobat Kilat tertarik untuk mengelola keuangan dengan baik, menabung atau berinvestasi, ada baiknya untuk mengetahui fenomena yang sedang terjadi, seperti resesi ekonomi.

Hal ini agar kita selalu waspada terhadap kemungkinan-kemungkinan terburuk yang mungkin dapat menimpa kita dan mempengaruhi kondisi keuangan. Musibah ekonomi yang terjadi secara makro, sebut saja krisis 1998 dan 2008, pada akhirnya akan berpengaruh terhadap ekonomi global dan tentunya iklim pasar saham.

Pada kesempatan kali ini tim Dompet Kilat akan membahas sedikit tentang resesi ekonomi yang banyak melanda negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Jangan takut dengan istilah teknis di bidang ekonomi, terutama kalau kamu memiliki keinginan untuk berinvestasi.

Apa sih Resesi Ekonomi?

Resesi ekonomi secara harfiah berarti kondisi di mana pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara mengalami penurunan secara dua kuartal berturut-turut. Apa itu PDB? Ia adalah jumlah total barang dan jasa yang beredar di dalam suatu perekonomian selama satu tahun.

Apa bedanya PDB dengan Gross Domestic Product (GDP) yang biasanya dijadikan ukuran ekonomi sebuah negara? Bedanya yang satu berbahasa Indonesia dan yang satu lagi berbahasa Inggris. Singkatnya, sama saja.

Imbas dari penurunan PDB adalah berkurangnya total produksi dan konsumsi dalam negeri yang terwujud dalam berkurangnya jumlah produksi nasional, menurunnya investasi, meningkatnya pengangguran, meningkatnya inflasi, hingga sampai terganggunya kestabilan mata uang.

Secara umum, perlu dipahami bahwa resesi ekonomi adalah penurunan pertumbuhan ekonomi suatu negara sepanjang dua kuartal.

Pertumbuhan ekonomi yang negatif selama dua kuartal atau lebih disebut resesi
Pertumbuhan ekonomi yang negatif selama dua kuartal atau lebih disebut resesi

Sepanjang sejarah, Indonesia hanya pernah satu kali mengalami resesi hebat, dimana pertumbuhannya mencapai angka -13%, yaitu saat krisis 1998. Satu per tujuh dari pie perekonomian Indonesia lenyap di tahun tersebut.

Akibat dampak pandemi COVID-19, di kuartal III tahun 2020, Indonesia resmi memasuki resesi setelah ekonomi Indonesia minus 3,49 persen, melanjutkan laju ekonomi di kuartal II sebelumnya yang tercatat minus 5,32 persen.

Namun, fenomena yang terjadi saat ini bukan hanya dialami oleh Indonesia. Negara-negara lain juga banyak yang mengalami resesi seperti negara tetangga kita yang cukup maju: Singapura. Kita juga perlu memahami perekonomian dunia dan imbasnya terhadap Indonesia karena ekonomi dunia ini semakin terintegrasi seiring dengan globalisasi.

Apa Penyebab Resesi?

Pertumbuhan ekonomi tidak dapat terus-terusan terjadi. Sama seperti kehidupan, ekonomi pun pasti ada naik-turun dan pasang surutnya. Penurunan aktivitas ekonomi yang signifikan biasanya dipicu oleh kombinasi faktor-faktor yang kompleks dan saling berhubungan. Berikut diantaranya:

1.      Guncangan Ekonomi

Peristiwa tak terduga yang menyebabkan disrupsi atau gangguan ekonomi yang meluas, seperti bencana alam, wabah, aksi terorisme, perang dan lain sebagainya. Termasuk juga seperti yang saat ini sedang terjadi: pandemi COVID-19.

2.      Kehilangan Kepercayaan Konsumen

Ketika konsumen mengkhawatirkan keadaan ekonomi, mereka memperlambat pengeluaran mereka dan lebih memilih untuk menyimpan uang mereka. Karena hampir 70% PDB bergantung pada belanja konsumen, seluruh perekonomian dapat melambat secara drastis ketika konsumen tidak lagi mengeluarkan uangnya untuk berbelanja.

3.      Suku Bunga Tinggi

Suku bunga tinggi membuat orang ragu untuk menggunakan pembayaran kredit. Kenapa? Sebab, suku bunga adalah selisih yang harus dibayarkan penerima kredit dari harga asli sebuah barang.

Hal ini membuat harga rumah, mobil, dan pembelian besar lainnya yang sering kali menggunakan kredit jadi terhambat. Bukan hanya itu, suku bunga yang tinggi juga menyulitkan orang menjadi sulit mendapatkan pinjaman dari bank untuk modal usaha.

4.      Deflasi

Kebalikan dari inflasi, deflasi berarti harga produk dan aset turun karena menurunnya permintaan yang besar. Ketika permintaan turun, harga-harga pun otomatis menjadi turun sebagai konsekuensi untuk menarik pembeli.

Dalam situasi deflasi, orang-orang menunda pembelian, menunggu harga menjadi lebih rendah, menyebabkan spiral yang terus menurun dan aktivitas ekonomi semakin melambat.

5.      Gelembung Aset (Bubbles)

Dalam gelembung aset, harga barang-barang seperti saham teknologi di era dot-com atau real estate sebelum Resesi Hebat naik dengan cepat. Orang-orang atau perusahaan berlomba-lomba membeli aset tersebut dengan harapan harganya akan terus meningkat dan bisa dijual saat harga sedang tinggi.

Namun, kemudian gelembung pecah, orang kehilangan apa yang mereka miliki di atas kertas dan ketakutan muncul. Akibatnya, orang dan perusahaan berlomba-lomba menjual asetnya sebelum harganya semakin turun.

Itu adalah rangkuman singkat dari faktor-faktor penyebab resesi ekonomi. Namun, permasalahan ekonomi adalah masalah yang sangat kompleks karena semuanya itu saling berkaitan. Ekonom juga seringkali berbeda pendapat tentang masalah-masalah ekonomi dan bagaimana solusi untuk mengatasinya.

Lalu, Apa Dampak Resesi Ekonomi?

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, resesi ekonomi merupakan penurunan dari pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu aspek terpenting dalam kemajuan sebuah negara.

Pertumbuhan ekonomi menunjukkan sejauh mana aktivitas perekonomian akan menghasilkan tambahan pendapatan bagi masyarakat. Tanpa pertumbuhan ekonomi, maka akan ada banyak penduduk yang tidak memperoleh kue ekonomi atau pendapatan.

Di sisi lain, populasi manusia di dunia selalu bertambah seiring waktu. Hal ini membuat semakin banyak orang yang membutuhkan pendapatan untuk hidup. Jika tidak diiringi dengan pertumbuhan ekonomi, maka jurang ketimpangan akan semakin jauh.

Nah, berikut ini adalah beberapa dampak yang dapat ditimbulkan oleh resesi ekonomi:

1.      Banyak Bisnis Gulung Tikar = PHK Massal

Saat resesi ekonomi, maka daya beli masyarakat menurun. Hasilnya, banyak produk yang tidak laku dijual di pasar. Menurunnya penjualan berarti menurunnya pemasukan untuk perusahaan. Sedangkan, perusahaan membutuhkan biaya operasional seperti sewa kantor, bayar gaji karyawan dan lain sebagainya.

Lama kelamaan, jika perusahaan tersebut sudah tidak sanggup menanggung biaya operasional maka terjadilah PHK untuk mengurangi beban perusahaan.

2.      Pengangguran

Berhubungan dengan dampak yang pertama, PHK menyebabkan orang menganggur. Seiring banyaknya pengangguran, maka daya beli masyarakat semakin berkurang dan malah membuat iklim usaha semakin lesu. Alhasil, perusahaan akan terus melakukan PHK dan memperbanyak angka pengangguran.

3.      Harga Aset Turun

Menurunnya daya beli masyarakat dan tingginya angka pengangguran membuat produk-produk yang ada di pasaran menjadi tidak laku dan pasti harganya akan menurun. Menurunnya harga produk dan aset di pasaran membuat orang tidak lagi berani mengambil risiko berbisnis.

Toh, orang berbisnis kan menginginkan keuntungan. Beli di harga yang murah, jual saat harga sedang tinggi. Kalau harga terus-terusan menurun, untuk apa berbisnis?

4.      Kemiskinan

Tingginya angka pengangguran pasti berpengaruh secara langsung terhadap kemiskinan. Nah, tidak perlu lagi dijelaskan dengan rinci apa dampak buruk kemiskinan kan? Sobat Kilat pasti tahu dampak buruk dari kemiskinan.

Menurunnya pertumbuhan ekonomi ini seperti lingkaran setan yang pada akhirnya bermuara pada kemiskinan. Nah, kemiskinan menyebabkan orang tua tidak bisa menyekolahkan anaknya. Sehingga anaknya menjadi bodoh.

Tetapi, semua orang butuh makan. Kalau peluang untuk mendapatkan pekerjaan dan uang yang halal semakin sempit, lama-lama angka kriminalitas akan meningkat. Terjadilah ketidakstabilan politik yang bisa menyebabkan konflik horizontal, aksi terorisme, kekerasan dan segala hal buruk lainnya.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Pandemi COVID-19 mengajarkan kita bahwa dunia bisa saja berubah dengan sangat cepat. Yang sebelumnya aman-aman saja menjadi karyawan tetap bisa sewaktu-waktu dipecat. Yang memiliki usaha bisa saja tiba-tiba bangkrut karena tidak ada pembeli yang diakibatkan dari kebijakan pemerintah seperti lockdown.

Oleh karena itu, penting sekali untuk kita memiliki pemahaman soal literasi finansial. Sejak pandemi COVID-19, banyak orang yang belajar tentang keuangan agar dapat menyikapi perubahan yang tidak diinginkan. Nah, blog Dompet Kilat ini bisa jadi media alternatif untuk kamu belajar soal keuangan.

Kita sebagai orang biasa, yang perlu kita lakukan adalah menabung dan berinvestasi lebih banyak untuk mempersiapkan diri akan fenomena yang memiliki kemungkinan cukup tinggi untuk terjadi ini. Jangan lupa untuk mempersiapkan dana darurat ya, Sob!

Kamu bisa menabung dan berinvestasi pada instrumen-instrumen yang memiliki volatilitas rendah dan likuiditas tinggi, seperti obligasi negara dan emas. Sama seperti kehidupan pada umumnya, hal yang paling utama untuk dilakukan setiap kali akan terjadi musibah adalah bersikap tidak panik dan mempersiapkan diri sedini mungkin.

Kalau kamu ingin membantu pertumbuhan ekonomi, cara yang bisa dilakukan adalah dengan berinvestasi di Fintech peer-to-peer lending seperti Dompet Kilat sekaligus dapat membantu penguatan UMKM agar lebih mudah mendapatkan akses modal sehingga dapat mengembangkan usahanya.

Dompet Kilat bermitra dengan petani, peternak ayam, udang dan lain sebagainya. Membantu mereka untuk mengembangkan usahanya adalah misi dari Dompet Kilat yang ingin mewujudkan inklusi keuangan di Indonesia sekaligus membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Nah, tumbuhnya UMKM secara langsung dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi sebuah negara sehingga dapat terhindar dari ancaman resesi ekonomi. Kecuali, jika ada peristiwa yang tidak diinginkan seperti pandemi Covid-19.

Penulis: Fadhel Yafie

Referensi:

Business Insider (2020) | What is a Recession? How Economists Define Periods of Economic Downturn

Economicshelp (2020) | Impact of Economic Recession

Kompas (2020) | Indonesia Resmi Memasuki Resesi

Marketplace (2016) | Consumer Spending: It’s Not Just for Consumers

The World Bank | GDP Growth Annual, Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © PT Indo Fin Tek 2016 - 2021