Resensi Kilat: The Psychology of Money Karangan Morgan Houssel
4 min read
Oke, kali ini kami ingin memberikan rangkuman dan pelajaran dari buku yang sangat menarik, yaitu buku The Psychology of Money karangan Morgan Houssel.
Sudah bukan rahasia lagi, saat ini nyaris semua orang di muka bumi menginginkan uang. Malah kalau perlu uang yang super banyak. Sebab, kita semua merasa memiliki uang yang banyak dapat membawa kebahagiaan tanpa batas.
Buku-buku best-seller di toko buku, kanal YouTube yang populer dan lain sebagainya seringkali memuat informasi tentang orang kaya dan bagaimana caranya mendapatkan uang yang banyak dengan cepat.
Tapi…. Sebenarnya, apa sih yang manusia inginkan dari uang yang banyak? Menurut Morgan Housel, penulis buku The Psychology of Money, sebenarnya orang tidak menginginkan uang.
Wait. Am I wrong? Masak iya sih orang tidak menginginkan uang? Menurut Housel, yang paling diinginkan oleh banyak orang sebenarnya adalah kebebasan. Mereka ingin memiliki kendali atas waktu mereka. Dan, memang betul uang dapat memfasilitasi hal tersebut dengan baik.
Namun, orang tidak paham bagaimana psikologi manusia berinteraksi dengan uang. Alhasil, banyak dari kita yang gagal menjalin hubungan baik dengan uang.
Hubungan Manusia dengan Uang dalam Psychology of Money
Manusia punya hubungan yang sangat kompleks dengan uang. Kebanyakan dari kita belajar ilmu teknis mengenai keuangan; seperti bagaimana cara mendapatkan keuntungan dari investasi kamu, bagaimana cara menabung untuk dana pensiun, atau bagaimana cara untuk mengelola keuangan pribadi.
Tetapi, ternyata dalam berhubungan dengan uang, mengetahui teori dan pengetahuan tentang mengelola keuangan saja tidak cukup. Kita juga perlu belajar bagaimana kita bereaksi terhadap uang.
Berdasarkan penelitian, keputusan finansial seseorang tidak dibentuk hanya dari pengetahuan, teori, hitung-hitungan rasional dan lain sebagainya. Justru, yang lebih dominan adalah perasaan, emosi, ego dan bias.
Di buku Psychology of Money ini, yang lebih banyak dibahas adalah perasaan, emosi, ego, bias dan cara-cara aneh orang berpikir tentang uang. Jadi, jika ingin mencari formula investasi agar bisa kaya dengan cepat, jelas ini bukan buku yang tepat untuk kamu.
Penulis menggunakan 19 cerita pendek yang merepresentasikan pertimbangan dan keputusan manusia dalam berhubungan dengan uang.
Kami akan merangkum poin-poin penting yang terdapat pada buku The Psychology of Money karya Morgan Houssel.
1. Pengalaman Pribadi Menentukan Keputusan Finansial Seseorang
Setiap orang memiliki latar belakang dan pengalaman yang berbeda-beda. Beberapa orang mungkin hidup di era yang berbeda-beda. Ada yang tumbuh dengan kondisi ekonomi yang mengalami inflasi tinggi, ada yang dalam economic boom dan lain sebagainya.
Iklim ekonomi global ketika generasi milenial hidup pastinya berbeda dengan generasi boomer dan juga generasi Z. Setiap generasi memiliki kondisi ekonomi global yang unik.
“Pengalaman pribadi seseorang dengan uang mungkin hanya memiliki pengaruh 0,00001% terhadap dunia, namun membentuk 80% persepsi tentang bagaimana uang dan dunia bekerja.”
Dua orang ekonom bernama Ulrike Malmendier dan Stefan Nagel mencoba untuk meneliti data yang dikumpulkan oleh lembaga Survey of Consumer Finance selama 50 tahun. Data tersebut memiliki informasi tentang bagaimana orang-orang Amerika menggunakan uangnya. Dari situ Malmendier dan Nagen ingin menemukan bagaimana orang-orang menginvestasikan uangnya.
Jawaban yang mereka temukan adalah keadaan ekonomi di saat mereka memasuki usia 20-an memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap cara mereka memandang risiko.
Usia 20-an adalah kondisi di mana seseorang sudah mulai mandiri secara finansial. Umumnya, kondisi ekonomi global akan sangat mempengaruhi persepsinya tentang uang sampai tua.
2. Keberuntungan Memainkan Peran Penting dalam Kesuksesan Finansial
Keberuntungan adalah topik yang rumit untuk dibahas mengingat sulitnya untuk mengukur sejauh mana keberuntungan berperan terhadap keberhasilan dari sebuah usaha. Buku Psychology of Money membahas topik ini dengan sangat menarik.
Kita juga beranggapan bahwa tak pantas untuk mengaitkan kesuksesan terhadap keberuntungan buta. Akhirnya, kita sering mengabaikan peran keberuntungan dalam membuat keputusan keuangan. Itu adalah sebuah kesalahan.
Padahal banyak orang kaya yang menjadi kaya karena faktor keberuntungan. Sebut saja John D. Rockefeller. Saat membangun kerajaan minyaknya, ia mengabaikan beberapa aturan legal di negaranya. Singkat cerita, keberuntungannya diperoleh dari perubahan beberapa aturan negara yang malah menguntungkannya.
Seandainya dewi fortuna tidak berada di pihaknya, bisa saja nasibnya berbeda 180 derajat. Usahanya bisa jadi ditutup karena melanggar aturan.
Ada juga pendiri Microsoft, Bill Gates. Kebetulan ia lahir dari keluarga yang cukup mapan dan mampu menyekolahkannya ke satu-satunya SMA di Boston yang memiliki komputer pada saat itu. Bayangkan kalau Bill Gates tidak masuk ke SMA tersebut, perkenalannya dengan komputer mungkin tertunda dan Microsoft tidak sebesar saat ini.
3. Keserakahan itu Nyata dan Membuat Kita Gegabah

Buku Psychology of Money ini juga menceritakan kisah-kisah di mana orang-orang kaya melakukan hal-hal yang kurang tepat dengan uang dan berakhir buruk.
Coba bayangkan kehidupan dari seorang pemain baseball baru (rookie player) yang mendapatkan gaji sekitar USD 500 ribu setiap tahunnya. Mengacu pada standar ekonomi pada umumnya, dia dapat dikategorikan sebagai masyarakat dengan ekonomi di atas rata-rata.
Tetapi jika ia berada di tim yang sama dengan pemain baseball superstar seperti Mike Trout yang memiliki penghasilan USD 36 juta per tahunnya, pemain rookie ini tak akan merasa senang dengan apa yang ia dapatkan.
Setelah itu, jika Mike Trout membandingkan dirinya dengan orang lain yang masuk dalam daftar 10 hedge fund managers terkaya di tahun 2018 yang rata-rata berpendapatan USD 340 juta tiap tahunnya, gaji Mike Trout tidak ada apa-apanya.
Perasaan iri tersebut dalam membuat kita melahirkan keputusan yang gegabah. Kita akan terdorong oleh keserakahan yang membuat kita mengabaikan banyak hal penting.
Jika kamu sedang sangat lapar dan disuguhi dengan banyak makanan lezat di atas meja, bisa jadi kamu menyantap semuanya hingga kekenyangan dan akhirnya memuntahkan makanan tersebut di atas meja. Inilah analogi yang bisa muncul karena keserakahan.
Tentu saja itu bukan hal yang pantas. Meninggalkan “kesempatan-kesempatan” di atas meja bukan berarti kamu melewatkan sesuatu yang penting; itu adalah sebuah pengakuan di mana melahap segala hal yang ada akan mendorongmu ke titik penyesalan.
Tidak selalu melihat ke atas dan mensyukuri apa yang kita punya adalah cara yang baik untuk menahan diri. Setiap orang memiliki perjalanannya masing-masing. Jangan sampai tidak pernah merasa puas dan menjadi pribadi yang serakah.
4. Mendapatkan Harta dan Mempertahankannya Merupakan Dua Hal yang Berbeda
Ini adalah salah satu pelajaran PALING PENTING dalam buku Psychology of Money. Sebagian besar pelajaran di bidang keuangan sekarang berfokus pada bagaimana kamu dapat memperoleh lebih banyak pendapatan, atau menghasilkan profit investasi yang lebih tinggi.
Namun, hanya sedikit yang membahas bagaimana kamu dapat mempertahankan uang atau kekayaan kamu, atau bagaimana cara untuk tidak membuat keputusan keuangan yang buruk. Kalau tidak hati-hati, human bias seperti keserakahan dan ego bisa masuk dan mengarahkan kita ke jalan yang salah.
Buku Psychology of Money ini banyak mengambil kisah-kisah orang sukses yang mendapatkan banyak kekayaan tapi justru berakhir bangkrut dan kesulitan. Ternyata Mengumpulkan kekayaan jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan tetap menjadi kaya.
Pola pikir dan mental yang harus dibangun untuk dapat mengumpulkan uang adalah berani mengambil risiko dan memiliki optimisme yang tinggi.
Sementara, untuk menjaga kekayaan dibutuhkan kondisi psikologis yang berbeda; di situ dibutuhkan ketakutan bahwa apa yang dikumpulkan bisa saja hilang secara tiba-tiba yang akhirnya mendorong seseorang untuk hidup sederhana dan lebih berhati-hati.
5. Tidak Perlu Menjadi Jenius dan Super Pintar untuk Dapat Menggunakan Uang dengan Bijak
Seorang jenius yang kehilangan kendali atas emosinya bisa menjadi keadaan finansial yang darurat. Ini berlaku juga buat kebalikannya.
Orang biasa tanpa pendidikan keuangan formal bisa mendapatkan uang yang banyak JIKA mereka memiliki beberapa keterampilan perilaku yang dapat membantu mereka mengendalikan uang, dan ini tidak ada hubungannya dengan pelatihan finansial yang formal.
Jadi sekarang kalau kamu belum punya pendidikan keuangan formal, apakah kamu bisa panik dan mengambil keputusan finansial secara terburu-buru? Belum tentu.
Kutipan di atas dijelaskan melalui beberapa cerita dalam buku tentang bagaimana beberapa investor profesional dan CEO terkenal berakhir dengan ending yang merugikan mereka sendiri karena ketidakmampuan mereka untuk mengendalikan dorongan keuangan mereka.
Mengelola finansial lebih banyak dipengaruhi oleh kebiasaan, emosi dan kondisi psikologis. Dan, ke semuanya ini perlu latihan yang memakan waktu cukup panjang. Membaca buku dan semua teori tentang keuangan tidak membantu banyak dalam pengelolaan keuangan jika kamu tidak melatih kedisiplinan diri.
Nah, itulah pelajaran yang bisa diambil dari buku populer berjudul Psychology of Money. Kami berharap informasi ini dapat berguna untuk kamu, khususnya bagi kamu yang memiliki usaha. Simak informasi seputar keuangan, ekonomi, bisnis dan self enhancement di Dompet Kilat

