7 Kebiasaan Baru yang Wajib Kamu Terapkan untuk Kesehatan Finansial
4 min read
Photo by Karolina Grabowska from Pexels
Ada pepatah yang mengatakan bahwa perubahan adalah satu-satunya hal yang gak akan berubah. Pepatah ini terasa lebih benar selama masa pandemi. Kita semua mengadopsi kebiasaan baru yang disebut protokol kesehatan untuk melindungi diri dari Covid-19.
Sama seperti kebiasaan menerapkan protokol kesehatan, kita bisa juga memulai kebiasaan baru untuk melindungi kesehatan finansial dari ketidakpastian di masa depan.
Ya, pandemi menyadarkan kita bahwa rencana yang sudah dicanangkan bisa saja sewaktu-waktu berantakan. Sebagai karyawan swasta, bisa saja kita dipecat (PHK) ketika kondisi perusahaan sedang buruk. Sebagai pengusaha, bisa saja bisnis kita bangkrut karena situasi yang gak terduga seperti pandemi.
Kesehatan finansial dapat membuat hidup lebih tenang. Setidaknya, gak perlu pusing-pusing memikirkan tagihan. Nah, di tengah kondisi seperti ini alangkah baiknya jika kita memulai kebiasaan baru agar kesehatan finansial tetap terjaga.
Ekonomi dunia membutuhkan inflasi untuk tetap tumbuh. Dampak yang paling jelas dari inflasi adalah naiknya harga barang-barang. Misal, satu gelas kopi pada 10 tahun yang lalu harganya Rp 15 ribu, saat ini sudah Rp 25 ribu. Oleh karena itu, menabung saja gak cukup untuk memastikan kondisi finansial kita tetap baik.
Cara yang paling tepat adalah dengan investasi. Dengan investasi, setidaknya total tabungan/uang/aset kita gak mengalami penurunan harga. Malah seringkali meningkat.
Nah, berikut ini adalah kebiasaan sangat efektif yang dimiliki oleh para investor.
1. Menabung Dulu, Jajan Kemudian
Banyak orang memiliki kebiasaan untuk menyisihkan sisa gajinya untuk tabungan. Ini adalah kebiasaan yang keliru. Investor yang super efektif akan menyisihkan gajinya untuk menabung, baru setelah itu sisanya untuk dibelanjakan.
Untuk menerapkan hal ini, kamu perlu memiliki perencanaan keuangan. Kamu harus mengetahui kira-kira berapa persen dari gaji yang bisa ditabung dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Misalnya: Berdasarkan perencanaan keuangan, kamu bisa menabung 30% dari total gaji, maka setelah gaji kamu masuk langsung sisihkan 30%-nya ke rekening tabungan kamu.
Saat ini sudah banyak fitur yang bisa melakukan autodebit. Manfaatkan fitur tersebut dan buat tabungan kamu secara otomatis dengan fitur tersebut. Melihat saldo tabungan kamu bertambah bisa sangat memotivasi kamu untuk terus menabung dan meningkatkan kesehatan finansial kamu.
2. Miliki Dana Darurat untuk Kesehatan Finansial
Sudah waktunya kamu mengadopsi kebiasaan baru untuk memiliki dana darurat. Kami sudah berkali-kali dan gak bosan-bosan membahas soal dana darurat, karena memang dana ini sangat penting untuk kesehatan finansial.
Dana darurat ini dapat digunakan untuk mengantisipasi berbagai hal yang gak terduga seperti biaya pengobatan, perbaikan aset produktif atau bahkan sekedar bertahan hidup jika penghasilan yang kita miliki hilang. Ini sangat krusial dalam menjaga kesehatan finansial kamu.
Jumlah nominal dana darurat ini berbeda-beda pada tiap orang. Sebab, setiap orang memiliki tanggungan dan beban yang berbeda pula. Namun, usahakan kamu memiliki dana darurat sebesar 3 sampai 6 bulan gaji, terutama jika kamu hanya memiliki satu sumber penghasilan.
3. Alokasikan Aset dan Diversifikasi
Pada kebiasaan pertama kita mengadopsi kebiasaan baru untuk menabung. Di kebiasaan kedua, kita memiliki dana darurat. Nah, jika sudah memiliki dana darurat, maka uang tabungan bisa digunakan untuk berinvestasi pada aset.
Investasi pada aset artinya kita membelanjakan uang untuk membeli aset yang nilainya bisa bertambah di kemudian hari. Ada sangat banyak instrumen investasi dan jenis aset yang bisa kamu manfaatkan. Namun, kamu harus paham bahwa jika nilai aset bisa meningkat maka ia juga bisa berkurang.
Selalu ada risiko dalam setiap aset investasi. Rumus pasti dalam investasi adalah: High Risk, High Return. Semakin besar risikonya, maka semakin besar pula keuntungan yang bisa diperoleh. Pahami rumus ini dan tanamkan dalam kepala untuk kesehatan finansial yang lebih baik.
Karena setiap aset memiliki risiko, maka kamu perlu untuk mendiversifikasi aset-mu. Jadi, kalau ada satu aset yang harganya turun, total aset kamu gak langsung anjlok. Kamu juga perlu melakukan mitigasi risiko dengan mengalokasikan nilai jual dan nilai beli pada setiap aset.
4. Mitigasi Risiko untuk Menjaga Kesehatan Finansial
Alokasi aset adalah bagaimana membagi uang kamu antar aset dengan kapitalisasi besar dan kecil, investasi pendapatan tetap dan uang tunai. Ini adalah kebiasaan yang sangat penting untuk memitigasi risiko
Sebuah penelitian telah menunjukkan bahwa sebagian besar keuntungan dari waktu ke waktu berasal dari alokasi aset daripada memilih saham yang tepat atau waktu yang tepat untuk berinvestasi.
Kamu mungkin sudah memiliki alokasi yang sesuai jika memiliki dana target. Ini mengubah campuran aset berdasarkan tahun yang kamu rencanakan untuk pensiun, dan menyeimbangkannya kembali ke profil risiko yang lebih rendah.
Panduan praktis klasik: Kurangi usia kamu dari 100, dan jawabannya adalah berapa banyak yang harus kamu miliki di saham. Jika kamu berusia 30 tahun, kamu disarankan memiliki 70% saham. Namun, bagi orang yang sudah cukup berusia, ada ketakutan bahwa tanpa mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi secara historis dari aset ia mungkin akan kehabisan uang di masa tua.
Hal yang sangat penting dalam berinvestasi adalah mitigasi risiko. Kamu bisa menggunakan fitur otomatis untuk cut-loss, yaitu mengurangi kerugian lebih lanjut dengan menerapkan ambang maksimum kerugian.
Selain itu, cara paling baik untuk memitigasi risiko adalah dengan belajar. Jangan pernah berinvestasi tanpa tahu betul instrumennya. Risiko bisa dikurangi dengan pengetahuan. Berkurangnya risiko dapat membuat kesehatan finansial kamu terjaga.
5. Pelajari Ilmu Mengelola Keuangan
Hampir setiap orang yang kaya raya memiliki konsultan untuk mengelola keuangannya. Hal ini dilakukan karena konsultan memiliki ilmu, pengalaman dan keahlian yang baik dalam pengelolaan keuangan. Daripada kamu repot-repot memikirkan di mana harus berinvestasi dan lain sebagainya, gunakan saja konsultan keuangan.
Investor sering melebih-lebihkan kemampuan mereka untuk mengatasi volatilitas. “Kamu gak tahu toleransi risiko kamu sampai kamu diuji,” kata Bernstein, salah satu konsultan keuangan populer. Saat-saat paling sulit bisa datang setelah pasar bull yang panjang, ketika investor belum mengalami kerugian baru-baru ini.
Namun, jika kamu gak memiliki kelebihan uang untuk membayar konsultan keuangan. Kamu harus belajar ilmu yang dimiliki oleh konsultan keuangan. Bisa tentang cara mengelola keuangan, investasi, kesehatan finansial dan lain sebagainya.
Menurut salah satu konsultan keuangan yang populer, Dave Ramsey: “Mengelola keuangan itu hanya membutuhkan 20% pengetahuan, sisanya adalah kebiasaan.” Artinya, ilmu pengelolaan keuangan atau literasi finansial itu mudah dipahami, hanya saja sulit sekali diterapkan.
6. Besar Tiang Daripada Pasak
Kamu pasti akrab sekali dengan pepatah “besar pasak daripada tiang” yang artinya pengeluaran kamu lebih besar daripada penghasilan. Nah, jangan sampai kamu menerapkan hal itu. Mulai kebiasaan untuk menghabiskan uang lebih sedikit dibandingkan penghasilan kamu.
Kebiasaan ini terlihat mudah, namun sulit diterapkan. Jika kita melihat orang-orang super kaya, maka terlihat jelas bahwa mereka menerapkan kebiasaan ini. Lihat saja Mark Zuckerberg dan Bill Gates yang selalu mengenakan pakaian yang itu-itu saja dalam setiap acara.
Kamu juga bisa melihat salah satu orang terkaya dunia: Elon Musk, yang saat ini tinggal di rumah petakan agar bisa dekat dengan kantornya. Hal ini menunjukkan bahwa mereka gak terlalu peduli dengan gengsi dan gaya hidup yang seringkali membuat pengeluaran kita membengkak bahkan melampaui penghasilan.
Kebiasaan buruk dengan membelanjakan uang lebih banyak daripada penghasilan dapat mengancam kesehatan finansial dan juga hidup kamu keseluruhan.
7. Miliki Perencanaan Keuangan
Kebiasaan yang ketujuh adalah memiliki perencanaan keuangan. Gak bisa dipungkiri bahwa hari ini uang adalah sumber kehidupan, sama seperti air. Untuk bertahan hidup kita butuh uang. Nah, air memang ada dimana-mana, namun untuk memaksimalkan potensi dan manfaatnya harus diolah sedemikian rupa.
Sebagai contoh, untuk digunakan dalam kegiatan rumah tangga air harus dipompa dari tanah, disalurkan ke pipa-pipa dan dikeluarkan di beberapa keran yang sudah diatur dengan sangat baik. Jika gak diatur, kamu bisa bayangkan sendiri bagaimana nantinya.
Untuk irigasi persawahan, air pun diatur sedemikian rupa agar bisa bermanfaat. Begitu juga dengan uang. Tanpa perencanaan dan penerapan yang tepat, uang bisa bocor kemana-mana dan hilang tanpa manfaat yang jelas sehingga mengancam kesehatan finansial.
Perencanaan keuangan bisa membuat kesehatan finansial terjaga dan memberikan ketenangan dalam hidup. Uang memang gak bisa membeli kebahagiaan, tapi tanpa uang sudah pasti kamu akan sengsara.
Nah, itulah tujuh kebiasaan baru yang bisa kamu terapkan untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan finansial kamu. Kesehatan finansial akan membuat masa depan yang penuh ketidakpastian menjadi hal yang bisa kamu hadapi dengan tenang.
Simak terus blog dan Instagram Dompet Kilat untuk mendapatkan informasi seputar dunia kerja, literasi finansial, ekonomi, bisnis dan lain sebagainya. See you on the top, Sob!
Referensi:
Bloomberg (2021) | The 7 of Highly Effective Investors
Forbes (2018) | The Slippery Slope of Lifestyle Creep and How to Avoid it
Morning Star (2021) | Assess Your Asset Allocation for Retirement

