Ingin Investasi Saham? Pelajari Dulu Penjelasan tentang Saham!

4 min read
pelajari secara singkat tentang investasi saham di sini

Halo Sobat Kilat! Sadar gak kalau belakangan ini banyak banget orang yang ngomongin saham? Gak sedikit juga yang mulai coba-coba investasi saham. Kondisi pandemi Covid-19 membuat banyak orang aware terhadap literasi finansial dan menyadari betapa pentingnya memiliki kondisi finansial yang baik dalam situasi sulit seperti sekarang ini.

Hasil survei dari DBS Bank pada Oktober 2020 silam menemukan bahwa mayoritas orang akan menggunakan uangnya untuk ditabung sebagai prioritas utama, kemudian lanjut dengan investasi sebagai prioritas kedua. Di tengah ketidakpastian kondisi seperti sekarang ini, konsumen cenderung berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.

Survei tersebut juga didukung oleh data dari Bank Mandiri yang menyatakan bahwa nasabah yang menabung mengalami peningkatan yang signifikan.

Salah satu instrumen investasi yang sedang populer saat ini adalah investasi saham. Nah, instrumen investasi ini masuk dalam kategori yang memiliki profil risiko cukup tinggi. Untuk meminimalisir risiko, cara paling baik adalah memahami dulu apa itu saham dan bagaimana cara kerjanya.

Apa Itu Investasi Saham?

Dalam bahasa Inggris, saham disebut sebagai stock. Saham atau kepemilikan (biasa juga dikenal dengan ekuitas perusahaan) merupakan instrumen keuangan yang mewakili kepemilikan di perusahaan. Saham juga mewakili klaim proporsional atas asetnya (apa yang dimiliki perusahaan) dan pendapatan atau dividen (apa yang dihasilkan perusahaan dalam laba).

Singkatnya, saham merupakan bukti dari sebagian kecil kepemilikan seseorang terhadap perusahaan. Biasanya saham berbentuk surat sesuai dengan jumlah yang dimilikinya. Surat saham ini biasa juga disebut sebagai lot.

Para pemegang saham disebut sebagai shareholder yang memiliki perusahaan sesuai dengan jumlah saham yang dimilikinya. Misalnya, perusahaan A mengedarkan 1 juta lot sahamnya, lalu ada seseorang yang investasi saham dengan membeli 100 ribu lot saham perusahaan A. Maka, orang tersebut memiliki 10 persen kepemilikan dari perusahaan A.

Saham Umum dan Saham Pilihan

Pada dasarnya, saham dibagi menjadi dua tipe, yaitu saham umum dan saham pilihan. Perbedaan utama dari keduanya adalah saham umum biasanya memberi kamu hak bersuara untuk ikut serta dalam menentukan arah kebijakan perusahaan. Hak suara digunakan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Sedangkan, saham pilihan gak memberi pemegang saham tersebut hak untuk bersuara. Namun, kedua saham ini membuat pemegangnya berhak untuk menerima sebagian kecil keuntungan dari perusahaan sesuai dengan jumlah saham yang dimiliki. Nah, keuntungan dari perusahaan disebut sebagai dividen.

Mengapa Perusahaan Menjual Sahamnya?

Mayoritas perusahaan besar yang ada saat ini berawal dari perusahaan pribadi yang didirikan oleh pendiri visioner beberapa tahun yang lalu. Sebut saja Apple yang berawal dari garasi rumah Steve Jobs, Amazon yang dimulai oleh Jeff Bezos seorang diri dan Facebook yang dibuat oleh Mark Zuckerberg dari kamar kosnya.

Seiring dengan perkembangan perusahaannya, lama kelamaan perusahaan akan membutuhkan tambahan modal seperti untuk menyewa kantor, menyediakan fasilitas kantor, menggaji karyawan, kegiatan pemasaran dan lain sebagainya.

Ada dua cara utama yang sering ditempuh perusahaan untuk mendapatkan modal tambahan, yaitu dengan menjual sahamnya (sebagian kepemilikan) dan meminjam uang. Nah, meminjam uang bisa menjadi masalah untuk sebagian start-up karena biasanya mereka hanya memiliki sedikit aset fisik. Belum lagi, bank sering kali mensyaratkan jaminan aset bagi peminjam.

Alternatif lainnya dan yang sering dilakukan oleh perusahaan start-up adalah dengan menjual sahamnya ke sebagian orang. Pendiri perusahaan akan menawarkan sahamnya sekaligus mempresentasikan rencana perusahaannya untuk menarik investor membeli saham tersebut.

Gak sedikit orang yang berani bertaruh untuk menginvestasikan uangnya untuk membeli perusahaan start-up yang sedang berkembang. Nah, investor-investor ini biasanya tergabung dalam institusi yang disebut sebagai venture capital. Ada pula investor pribadi yang siap berinvestasi di perusahaan start-up. Mereka ini biasa disebut sebagai angel investor.

Salah satu pendiri PayPal dan venture capitalist kawakan, Peter Thiel dalam bukunya Zero to One, menuliskan bahwa berinvestasi di perusahaan start-up memang memiliki risiko yang sangat tinggi. Dari 20 perusahaan start-up yang diinvestasikan, mungkin hanya ada 1-2 yang berhasil survive dan profit. Namun, sekalinya perusahaan start-up itu berhasil, nilai valuasinya akan melejit tajam dan memberikan keuntungan yang besar.

Singkatnya, sebuah perusahaan biasanya menjual sebagian sahamnya untuk mendapatkan tambahan modal agar bisa melebarkan sayap ke tempat lain dan mengembangkan usahanya untuk menjadi lebih besar lagi.

Bagaimana Cara Membeli Saham?

IDX merupakan institusi resmi yang mengatur pasar saham di Indonesia
IDX merupakan institusi resmi yang mengatur pasar saham di Indonesia

Pertama-tama, harus digaris bawahi bahwa gak semua perusahaan bisa kita beli sahamnya. Perusahaan seperti start-up pada tahap awal belum bisa memperjualkan sahamnya secara bebas. Mereka biasanya masih menjual sahamnya pada institusi atau orang tertentu seperti venture capital atau angel investor.

Kamu hanya bisa membeli saham perusahaan yang terdaftar di bursa efek. Di Indonesia, tempat jual beli saham ini dikenal dengan nama Bursa Efek Indonesia (BEI) atau Indonesia Stock Exchange (IDX) yang berkantor pusat di Jakarta.

Perusahaan yang terdaftar di bursa efek adalah perusahaan yang terbuka untuk publik. Namun, untuk bisa melantai di bursa efek, perusahaan tersebut harus memenuhi persyaratan atau listing dari BEI. Pada dasarnya, perusahaan yang sudah berpotensi menjadi perusahaan besar dengan modal besar akan mudah terdaftar.

Nah, berkat perkembangan teknologi, saat ini sudah banyak penyedia jasa untuk membeli saham di BEI dengan mudah secara online atau lewat aplikasi. Gak perlu lagi repot-repot datang ke kantor BEI untuk membeli saham perusahaan tertentu.

Apa Untungnya Investasi Saham?

Ada dua cara mendapat keuntungan dari investasi saham sebuah perusahaan:

1.  Dividen

Seperti yang sudah dijelaskan di awal tulisan, saham merupakan instrumen keuangan yang mewakili kepemilikan perusahaan. Nah, sebagai salah seorang dari pemilik perusahaan, maka kamu juga berhak mendapatkan penghasilan dari laba bersih perusahaan tersebut. Sekali lagi, hal ini disebut sebagai dividen.

Setiap perusahaan memiliki regulasi masing-masing kapan dan berapa dividen ini akan dibagikan. Mungkin bisa setiap 6 bulan sekali atau setahun sekali. Jumlahnya juga bisa 10% atau bahkan 50% dari laba bersih. Jumlah ini sangat bervariasi dan bergantung sekali terhadap regulasi perusahaan.

Biar lebih mudah dipahami, tim Dompet Kilat memberikan contoh sederhana. Misalnya, perusahaan A memiliki laba bersih sebesar Rp. 10 miliar di tahun 2021. Berdasarkan regulasi perusahaan A, mereka akan membagikan 10% labanya itu pada pemilik saham atau shareholders setiap tahun.

Artinya, perusahaan A akan mengalokasikan Rp. 1 miliar untuk dibagikan pada pemilik saham. Kalau kamu memiliki 5% saham dari perusahaan A, maka kamu akan mendapat dividen 5% x Rp. 1 miliar. Saat perusahaan A tutup buku di tahun 2021, kamu akan mendapatkan dividen senilai Rp. 50 juta.

Namun, di tahun 2022 belum tentu perusahaan A itu berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp. 10 miliar. Bisa turun dan bisa naik, bergantung dari performa perusahaan A tersebut. Malah mungkin saja di tahun 2022 perusahaan A mengalami kebangkrutan dan gak membagikan dividen sama sekali.

Jadi, kalau ingin investasi saham, DO IT WITH YOUR OWN RISK!

2.  Trading Saham

Oke, setelah memahami bagaimana pemegang saham mendapatkan dividen, cara kedua untuk mendapatkan keuntungan dari kepemilikan saham adalah dengan melakukan trading atau jual beli saham.

Kita ambil contoh dari perusahaan A lagi. Karena perusahaan A membukukan keuntungan dan memberikan dividen yang baik bagi para pemegang sahamnya pada tahun 2020, maka akan ada banyak orang yang menginginkan kepemilikan saham perusahaan A tersebut.

Semoga Sobat Kilat gak bolos saat pelajaran ekonomi di sekolah dulu. Prinsip dasar ekonomi adalah supply and demand. Pasokan dan permintaan. Ketika jumlah permintaan meningkat dan jumlah pasokannya tetap, akan terjadi kelangkaan yang menyebabkan harga akan naik. Semakin tinggi permintaan dan semakin rendah pasokan, maka harga akan semakin mahal.

Begitu pula sebaliknya. Kalau jumlah pasokan meningkat dan jumlah permintaan menurun, maka harga akan turun. Jumlah barang atau jasa yang beredar di pasaran menjadi banyak dan gak ada yang mau beli. Konsekuensi logisnya adalah harga pasti akan turun agar bisa laku di pasaran. Ya, sederhananya seperti itu.

Mari kembali lagi ke perusahaan A. Ketika performa perusahaan A meningkat dan menjanjikan jumlah dividen yang meningkat pula, maka akan semakin banyak orang yang menginginkan saham dari perusahaan A. Apa konsekuensinya? Ya, kamu benar. Harga saham per lot dari perusahaan A akan naik.

Misalnya, kamu membeli satu lot saham perusahaan A pada tahun 2019 dengan harga Rp. 50 ribu. Karena performa perusahaan A terus meningkat dan banyak yang membeli saham perusahaan A, pada tahun 2021 harga satu lot saham perusahaan A naik menjadi Rp. 250 ribu.

Dari sinilah para trader saham bisa mengambil keuntungan. Dengan modal Rp. 50 ribu, kamu simpan selama dua tahun dan harganya dapat meningkat jadi lima kali lipat!

Namun, harga saham itu cukup fluktuatif. Dari transaksi jual beli saham, performa perusahaan, kondisi ekonomi, politik dan lain sebagainya bisa mempengaruhi harga saham sebuah perusahaan. Oleh karena itu, ada juga trader yang melakukan jual beli dalam waktu singkat. Gak perlu menunggu bertahun-tahun. Ada juga yang jual beli dalam hitungan jam, hari atau minggu.

Semua tergantung dari preferensi setiap trader. Catatan penting: trading saham juga memiliki risiko yang cukup tinggi. Jadi, DO IT WITH YOUR OWN RISK!

Itulah penjelasan sederhana tentang apa itu saham, jenis-jenis saham dan bagaimana cara saham bekerja hingga memberikan keuntungan untuk pemiliknya. Kalau kamu ingin melakukan aktivitas jual beli saham, sangat direkomendasikan untuk mempelajari profil perusahaan tersebut. Jangan sampai kamu membeli saham karena hanya ikut-ikutan tren saja. Bukannya untung malah bisa untung.

Nah, bagaimana Sobat Kilat? Kamu lebih memilih untuk berinvestasi pada saham untuk menunggu dividen atau melakukan trading saham yang bisa memberikan keuntungan secara singkat?

Atau kamu masih mau mempelajari lebih dalam tentang dunia investasi? Ada pula alternatif investasi selain saham seperti di fintech peer-to-peer lending seperti Dompet Kilat. Simak terus Blog Dompet Kilat untuk mendapat informasi tentang dunia keuangan dan seputarnya.

Penulis: Fadhel Yafie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © PT Indo Fin Tek 2016 - 2021