Kenapa Sulit Sekali Mengelola Keuangan? Inilah Jawaban dan Tips Mengatasinya

2 min read
mengelola keuangan dengan mencatat arus kas

Photo by Karolina Grabowska from Pexels

Di tanggal muda atau saat baru-baru terima gaji, kita biasanya tidak pusing menghadapi hidup. Memesan makanan mahal yang sedap, hangout dengan teman-teman di tempat bagus hingga checkout barang-barang yang ada di keranjang e-commerce. Kita melakukannya tanpa berpikir panjang untuk mengelola keuangan.

Namun, memasuki akhir bulan dan tanggal tua kita mulai kelimpungan. Melihat saldo di rekening bisa menimbulkan pusing di kepala dan tetes-tetes keringat keluar dari dahi. “Ah, lari kemana gaji gue kemarin?”

Bukannya belajar dari kesalahan sebelumnya, kita mengulangi lagi kesalahan semacam itu di awal bulan. Memasuki tanggal tua, kepusingan yang sama di bulan lalu kembali lagi. Mengapa sulit sekali belajar dari kesalahan pengaturan keuangan?

Faktor yang Membuat Kita Sulit Mengelola Keuangan

Beberapa pakar keuangan seperti Dave Ramsey mengatakan bahwa mengatur keuangan pribadi itu hanya memerlukan 20% pengetahuan dan sisanya 80% adalah kebiasaan. Artinya, teori untuk mengatur keuangan itu sangat mudah dipahami, yang sulit adalah menerapkan kebiasaan.

Nah, ketika kesulitan di akhir bulan, kita paham betul ada yang salah dengan cara kita mengelola keuangan. Namun, kesalahan itu terus berulang karena kebiasaan yang sudah mengakar dalam waktu yang cukup lama.

Robert Kiyosaki dalam buku populernya: Poor Dad, Rich Dad mengatakan bahwa ada dua emosi dasar manusia ketika berhadapan dengan uang, yaitu ketakutan dan keserakahan.

1.  Ketakutan membuat kita bekerja keras untuk mendapatkannya karena takut kehilangan dan tidak memiliki uang.

2.  Setelah memiliki uang, keserakahan membuat kita menaikkan gaya hidup dan membeli barang-barang baru yang bahkan melebihi pemasukan kita.

Manusia adalah makhluk sosial yang berkompetisi untuk mendapatkan perhatian dari lingkungan sosial. Oleh karena itu, ketika memiliki uang (sumber daya) kita secara impulsif membelanjakan barang-barang tersebut untuk memperoleh perhatian. Singkatnya, menaikkan gaya hidup.

Ketika angka dalam saldo rekening berkurang, rasa takut akan kehilangan uang muncul. Alhasil, kita kembali berusaha kerja keras mendapatkan uang tersebut untuk memenuhi gaya hidup. Setidaknya, tetap bertahan pada gaya hidup sebelumnya.

Tidak sedikit orang yang rela berhutang untuk memenuhi gaya hidupnya agar tetap mendapatkan perhatian dari lingkungan sosialnya. Kompetisi dan emosi ini membuat kita bertindak impulsif terhadap cara kita mengelola keuangan.

Lingkaran ini disebut sebagai rat race. Kompetisi yang tidak ada ujungnya dan tidak akan bisa kita menangkan. Kalau punya uang, kita jajan ini itu dengan mudah. Begitu sudah habis, kita takut dan harus bekerja lagi. Besar pasak daripada tiang.

Lama kelamaan, kita tidak lagi punya kebebasan, kreativitas dan keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru. Padahal, salah satu cara untuk keluar dari rat race tersebut adalah keberanian kita memulai sesuatu yang berbeda dari yang biasa kita lakukan sehingga berpotensi menambah pendapatan kita.

Langkah Pertama untuk Mengelola Keuangan

Keputusan yang impulsif dan berdasarkan emosi biasanya bukanlah keputusan yang baik. Menurut pemenang Nobel Ekonomi 2002, Daniel Kahneman, pengambilan keputusan manusia memang lebih didominasi oleh emosi dibanding rasionalitas.

Salah satu cara untuk memancing rasionalitas ke dalam pengambilan keputusan adalah dengan menunjukkan sesuatu yang lebih rumit tepat di depan mata kita. Tidak ada yang lebih rumit bagi otak kita selain angka!

Langkah pertama untuk menghentikan kebiasaan buruk mengelola keuangan adalah dengan mencatat arus keuangan! Catat semua pemasukan dan pengeluaranmu. Angka yang terpampang di depan wajah akan memaksa kita berpikir rasional.

Dengan adanya catatan keuangan, kamu bisa lebih jelas melihat apa saja pengeluaranmu yang membuat uang kita habis. Setelah itu, kita bisa menentukan skala prioritas dan menghemat pada hal-hal yang dianggap tidak terlalu penting.

Misalnya, beli kopi satu kali sehari mungkin tampak ringan. Angka Rp 25 ribu mungkin bukan jumlah uang yang besar sehingga membuat otak kita menggampangkan hal tersebut. Tapi, kalau setiap harinya kamu mengeluarkan uang Rp 25 ribu, maka dalam sebulan pengeluaranmu untuk minum kopi jadi Rp 750 ribu!

Angka yang besar ini akan membuat otak kita waspada yang dipicu emosi takut kehilangan tadi. Nah, kondisi ini memaksa kita untuk berpikir rasional. Apakah layak kita mengeluarkan uang sebanyak Rp 750 ribu per bulan hanya untuk kopi? Jawabannya, bergantung pada pemasukan dan kebutuhan masing-masing dari Sobat Kilat.

Lakukan pencatatan keuangan pada setiap pengeluaran dan pemasukan. Setelah berjalan selama tiga bulan, kita jadi bisa lebih rasional dalam mengambil keputusan belanja. Ingat, mengelola keuangan ini adalah persoalan kebiasaan.

Kalau kamu sudah memulai kebiasaan rasional dalam mengambil keputusan belanja, kamu akan menjadi lebih bijak dalam mengelola keuanganmu. Jadi, langkah pertama untuk mengelola keuangan adalah dengan mencatat arus keuangan sehingga bisa memaksa diri mengambil keputusan yang lebih rasional!

Banyak sekali teori mengelola keuangan di luar sana, tapi yang pasti langkah pertama adalah dengan mencatat arus keuangan. Langkah berikutnya tergantung pada teori yang ingin kalian ikut. Ingat, mengelola keuangan hanya membutuhkan 20% teori dan sisanya adalah kebiasaan.

Penulis: Fadhel Yafie

Referensi:

Daniel Kahneman (2011), Thinking Fast and Slow

Robert Kiyosaki (1997), Poor Dad, Rich Dad

Daveramsey.com | Dave Ramsey’s 7 Baby Steps

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © PT Indo Fin Tek 2016 - 2021 | Newsphere by AF themes.