Mengenal Inflasi, Definisi, Cara Kerja dan Penyebabnya

4 min read
inflasi membuat harga-harga barang dan jasa meningkat

Sobat Kilat pernah gak ingat berapa harga satu porsi nasi goreng langganan di dekat rumah pada 10 tahun yang lalu? Walaupun harganya berbeda-beda di tiap tempat, namun bisa dipastikan harganya saat ini tentu lebih mahal dibandingkan 10 tahun yang lalu bukan?

10 tahun yang lalu, admin bisa membeli satu porsi nasi goreng ayam dengan harga 8 ribu rupiah saja. Hari ini, satu porsi nasi goreng ayam harganya mencapai 12 ribu rupiah. Bukan hanya nasi goreng saja yang mengalami kenaikan harga, tetapi juga nasi padang, mie ayam, tarif angkutan umum, kopi dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Ada banyak sekali faktor yang menyebabkan kenaikan harga pada barang dan jasa tertentu. Namun, ada istilah ekonomi yang bisa merangkum kompleksitas faktor-faktor penyebab kenaikan harga. Istilah tersebut dinamakan dengan inflasi.

Apa Itu Inflasi?

Secara sederhana, inflasi merupakan penurunan nilai mata uang sebuah negara dari waktu ke waktu. Turunnya nilai mata uang meningkatkan harga barang dan jasa tertentu dalam perekonomian selama beberapa periode waktu.

Ketika satu unit mata uang mengalami penurunan nilai, daya beli masyarakat juga berpotensi mengalami penurunan. Sebab, dibutuhkan lebih banyak uang untuk membeli barang dan jasa dalam jumlah yang sama daripada sebelumnya.

Dengan kata lain, kamu membutuhkan lebih banyak uang untuk membeli barang yang sama, baik itu nasi goreng, nasi padang, roti, pasta gigi, harga sewa rumah dan lain sebagainya.

Untuk mempermudah, kita bahas nilai rupiah seperti yang sudah dicontohkan di awal tulisan. 10 tahun yang lalu, harga satu porsi nasi goreng ayam sekitar 8 ribu rupiah dan hari ini naik menjadi 12 ribu rupiah per porsi.

Bagaimana Cara Kerjanya?

Inflasi terjadi ketika harga naik sehingga menurunkan daya beli rupiah. Misalnya, pada tahun 2005 harga tiket bioskop rata-rata adalah 15 ribu rupiah. Pada 2021, harga rata-rata tiket bioskop naik menjadi 45 ribu rupiah.

Kalau pada tahun 2005 kamu menyimpan 50 ribu rupiah, hari ini uang tersebut hanya bisa digunakan untuk membeli satu tiket bioskop saja. Padahal, kalau digunakan pada tahun 2005, maka kamu bisa mentraktir dua orang teman sekaligus! Atau mungkin kamu bisa mengajak pacar dan masih bisa membeli dua minuman segar saat menonton.

Kenaikan harga kopi di Amerika Serikat

Namun, jangan anggap inflasi sebagai harga yang lebih tinggi untuk satu barang atau jasa saja. Hal ini juga mengacu pada kenaikan harga yang luas di seluruh sektor atau industri, seperti otomotif, bisnis energi hingga properti dan pada akhirnya seluruh perekonomian suatu negara.

Ada beberapa ukuran utama yang digunakan beberapa negara, di antaranya adalah:

  • Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI). CPI menggunakan pendekatan yang melacak perubahan dalam biaya delapan kategori utama yang dibelanjakan masyarakat, yaitu: makanan dan minuman, perumahan, pakaian, transportasi, pendidikan dan komunikasi, rekreasi, perawatan medis, dan barang dan jasa.
  • Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI). PPI melacak perubahan harga yang diterima perusahaan dari berbagai industri untuk barang dan jasa yang mereka jual setiap bulan.
  • Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditure Price Index/PCE). PCE berapa banyak biaya yang dikeluarkan konsumen untuk barang dan jasa dalam perekonomian. PCE mempertimbangkan bidang yang lebih luas dibandingkan PCI, termasuk di antaranya pengeluaran kesehatan, perumahan, asuransi dan lain sebagainya.

Semua indikator ini menggunakan berbagai ukuran untuk melacak perubahan harga yang dibayar konsumen dan produsen dalam industri di seluruh aspek perekonomian.

Meskipun memikirkan nilai rupiah yang kian turun dapat membuat frustasi, namun mayoritas ekonom menganggap sejumlah kecil inflasi sebagai tanda ekonomi yang sehat. Tingkat inflasi yang moderat mendorong kamu untuk membelanjakan atau menginvestasikan uang hari ini, daripada memasukkannya ke bawah kasur dan melihat nilainya berkurang.

Inflasi merupakan salah satu faktornya pentingnya kamu berinvestasi agar nilai uang yang kamu miliki saat ini gak terdepresiasi terlalu jauh. Salah satu cara investasi alternatif yang menarik di era saat ini adalah berinvestasi di platform peer-to-peer lending seperti Dompet Kilat.

Menurut ekonom terkemuka asal Inggris, John Maynard Keynes, pertumbuhan kecil inflasi di angka 2 persen per tahun adalah tanda ekonomi yang sehat dan justru dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Teori ini diadopsi oleh berbagai negara sehingga negara berupaya untuk menghasilkan inflasi dalam jumlah yang kecil.

Di Indonesia, Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral menargetkan inflasi tumbuh di bawah 4 persen. Pada tahun 2017, BI mencanangkan sasaran inflasi pada periode 2019 – 2021 dengan masing-masing per tahunnya 4 persen, 3,5 persen dan 3 persen. Sasaran inflasi ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pelaku usaha dan masyarakat dalam melakukan kegiatan ekonominya ke depan, sehingga tingkat inflasi dapat dijaga pada tingkat yang rendah dan stabil.

Namun, inflasi dapat menjadi kekuatan yang merusak dalam suatu perekonomian, jika dibiarkan lepas kendali dan meningkat secara dramatis. Inflasi yang tidak terkendali dapat menggulingkan ekonomi suatu negara, seperti pada tahun 2018 ketika tingkat inflasi Venezuela mencapai lebih dari 1.000.000 persen per bulan, menyebabkan ekonomi runtuh dan memaksa banyak warga untuk meninggalkan negara tersebut.

Indonesia juga pernah mengalami peningkatan inflasi secara dramatis pada krisis moneter pada tahun 1997 – 1998. Saat itu Indonesia mencatatkan rekor dengan angka inflasi mencapai 77,63 persen. Sebelum krisis moneter, kurs rupiah terhadap dolar sekitar 2000 – 2500 rupiah per dolar. Nah, saat krisis moneter terjadi, harga rupiah anjlok mencapai 16.000 rupiah per dolar.

Kita semua tahu persis apa yang terjadi pada tahun 1998 di Indonesia, pemerintah orde baru Soeharto runtuh akibat krisis hebat yang terjadi saat itu.

Apa Penyebab Inflasi?

Akar utama terjadinya inflasi adalah meningkatnya jumlah uang yang beredar pada masyarakat. Pencetakan uang dalam jumlah besar juga dapat mengakibatkan inflasi.

Contoh sederhananya begini: Harga iPhone 12 adalah 20 juta rupiah. Gak semua orang mampu membelinya karena masalah ekonomi yang beragam.

Tetapi, jika semua orang diberikan stimulus bantuan sosial sebesar 20 juta rupiah. Mungkin akan ada banyak orang yang jadi mampu membeli iPhone 12. Nah, karena produksi iPhone 12 terbatas, maka tanpa dikehendaki harga iPhone 12 akan meningkat pula. Alhasil, nilai 20 juta rupiah tidak lagi sama.

Nah, kenaikan harga secara bertahap yang terkait dengan inflasi dapat disebabkan oleh tiga cara utama:

1.  Inflasi Demand-Pull

Inflasi demand-pull adalah ketika permintaan barang atau jasa meningkat tetapi pasokan tetap sama, hal ini akan meningkatkan harga barang atau jasa tersebut. Inflasi demand-pull dapat disebabkan oleh beberapa cara.

Dalam ekonomi yang sehat, orang dan perusahaan menghasilkan lebih banyak uang. Daya beli yang meningkat ini memungkinkan konsumen untuk membeli lebih banyak barang atau jasa daripada sebelumnya.

Hal ini meningkatkan persaingan untuk barang-barang atau jasa yang ada dan secara gak langsung turut menaikkan harga. Melihat permintaan yang tinggi, perusahaan berusaha untuk meningkatkan produksi. Dalam skala yang lebih kecil, inflasi demand-pull dapat disebabkan oleh popularitas produk tertentu secara tiba-tiba.

Misalnya, pada awal pandemi COVID-19, terjadi peningkatan permintaan besar-besaran untuk barang yang berhubungan dengan kesehatan, terutama hand sanitizer dan masker medis. Pabrik yang memproduksi barang tersebut belum mampu untuk meningkatkan produksi karena terganggu pula dengan pandemi COVID-19.

Hasilnya, pasokan hand sanitizer dan masker medis menjadi terbatas. Hal ini berakibat terhadap peningkatan harga sampai 10 kali lipat dari harga normal. Ini adalah contoh dari inflasi demand-pull.

2.  Inflasi Cost-Push

Inflasi cost-push terjadi ketika pasokan dan produksi barang atau jasa terbatas dalam beberapa cara tetapi permintaan tetap sama, yang mendorong harga naik. Biasanya, hal ini terjadi karena peristiwa eksternal, seperti bencana alam, menghalangi kemampuan perusahaan untuk memproduksi cukup banyak barang tertentu untuk memenuhi permintaan konsumen. Hal ini memungkinkan mereka untuk menaikkan harga dan mengakibatkan inflasi.

Contoh yang paling mudah adalah harga minyak. Kamu dan hampir semua orang lainnya membutuhkan minyak atau bensin untuk mengisi bahan bakar mobil. Ketika perjanjian atau bencana internasional secara drastis mengurangi pasokan minyak, harga minyak dunia meningkat karena permintaan relatif stabil meskipun pasokan menyusut.

3.  Inflasi Buatan

Dibandingkan dengan dua inflasi sebelumnya yang biasanya terjadi di luar kendali negara, inflasi buatan merupakan sesuatu yang sudah ditargetkan oleh negara. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, mayoritas negara adalah penganut Keynesian yang menganggap bahwa inflasi dalam angka kecil adalah tanda ekonomi yang sehat.

Ketika harga barang dan jasa naik, pekerja dan orang lain berharap bahwa pendapatan mereka akan terus meningkat di masa depan dengan tingkat yang sama dan menuntut lebih banyak biaya / upah untuk mempertahankan standar hidup mereka.

Peningkatan upah mereka meningkatkan daya belinya sehingga biaya barang dan jasa jadi lebih tinggi. Ini lah alasan mengapa pemerintah setiap tahun meningkatkan jumlah Upah Minimal Regional (UMR), agar inflasi tetap terkontrol.

Nah, itulah penjelasan sederhana dari tim Dompet Kilat tentang inflasi yang sangat berpengaruh terhadap ekonomi sebuah negara. Pengetahuan tentang inflasi ini juga dapat menambah pertimbangan kamu untuk melakukan aktivitas ekonomi seperti meminjam uang di bank untuk modal usaha hingga berinvestasi.

Sebab, inflasi adalah salah satu ukuran penting yang dapat mempengaruhi keseluruhan aktivitas ekonomi dalam sebuah negara. Nah, untuk mencegah uang yang kamu miliki saat ini mengalami depresiasi karena adanya inflasi buatan, cara yang paling bijak dan mudah adalah dengan berinvestasi.

Salah satu alternatif investasi adalah dengan berinvestasi di platform peer-to-peer lending seperti Dompet Kilat yang sudah mendapat izin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Nah, itulah penjelasan sederhana dari tim Dompet Kilat tentang inflasi yang sangat berpengaruh terhadap ekonomi sebuah negara.

Penulis: Fadhel Yafie

Referensi:

Bank Indonesia | Apa Itu Inflasi

Detik Finance (2018) | Dolar AS Sekarang Rp 14.825, Waktu Krismon 1998 Berapa?

Forbes (2020) | What Is Inflation And How Does It Work?

Investopedia (2020) | Inflation

Kata Data (2018) | Inflasi Sempat Melambung Hingga 77% pada 1998

The Balance (2020) | What is Inflation?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © PT Indo Fin Tek 2016 - 2021 | Newsphere by AF themes.