8 Instrumen Investasi yang Wajib Kamu Ketahui!

7 min read
Instrumen investasi merupakan aset yang kalian pilih untuk menanamkan uang

Image by TheDigitalWay from Pixabay

Pandemi COVID-19 membuat banyak orang lebih aware terhadap literasi finansial. Menurut hasil survei dari DBS Bank yang dilakukan pada Oktober 2020 silam, mayoritas responden menjawab mereka akan menggunakan uangnya untuk ditabung sebagai prioritas utama. Kemudian, responden memilih instrumen investasi sebagai prioritas kedua. Di tengah pandemi seperti saat ini, konsumen cenderung berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.

Hal ini terjadi karena ketidakpastian ekonomi yang disebabkan oleh pandemi Covid-19. Mereka yang bekerja di perusahaan, bisa saja sewaktu-waktu diberhentikan (PHK). Mereka yang memiliki usaha mapan bisa saja sewaktu-waktu mengalami kebangkrutan karena hal-hal yang tidak diduga seperti pandemi.

Kondisi semacam ini sangat jelas berdampak terhadap tingkat kepercayaan konsumen, terbukti dari kehati-hatian konsumen dalam berbelanja. Oleh karena itu, banyak orang yang memilih untuk menabung dan menyiapkan dana darurat untuk mengantisipasi kondisi seperti pandemi ini.

Hal ini dibuktikan oleh data dari Bank Mandiri yang menyatakan bahwa nasabah yang menabung mengalami peningkatan pesat. Sampai Agustus 2020 silam, nasabah yang memiliki tabungan di atas Rp. 5 miliar meningkat sampai Rp 373 triliun dibandingkan tahun 2019 yang hanya mencapai Rp 115 triliun.

Literasi finansial menjadi sangat penting dan saat ini orang-orang berbondong-bondong untuk mempelajari hal ini. Kita bisa lihat saat ini banyak sekali kelas-kelas seperti webinar yang berbagi informasi seputar dunia finansial.

Nah, salah satu hal yang juga tidak lepas dari literasi finansial selain mengelola keuangan pribadi adalah investasi. Sobat Kilat perlu untuk mengetahui apa itu investasi, jenis-jenis instrumen investasi serta risiko dari setiap investasi. Jangan sampai berinvestasi karena hanya ikut-ikutan influencer yang semakin hari semakin banyak saja.

Apa itu Investasi?

Sebelum melakukan investasi, tidak ada cara yang lebih baik untuk Sobat Kilat untuk memahami konsep investasi terlebih dahulu. Kamu sedang berada di laman yang tepat untuk berkenalan dengan apa yang dinamakan investasi. Tak kenal maka tak sayang.

Investasi adalah suatu kegiatan menanamkan modal, baik langsung maupun tidak dengan harapan di masa depan nanti pemilik modal mendapatkan sejumlah keuntungan dari hasil penanaman modal tersebut. Modal ini bisa dibelikan aset atau barang yang diharapkan mengalami kenaikan nilai.

Ketika seseorang membeli suatu barang sebagai investasi, tujuannya bukan untuk menggunakan aset atau barang tersebut tetapi menggunakannya di masa depan untuk menciptakan kekayaan. Investasi selalu menyangkut pengeluaran beberapa aset saat ini seperti waktu, uang, atau usaha dengan harapan akan mendapatkan hasil yang lebih besar di masa depan daripada yang semula ditanamkan.

Contohnya, kamu bisa menginvestasikan uangmu dengan membelikan barang atau aset yang kira-kira di masa depan akan mengalami kenaikan nilai. Sebut saja aset seperti rumah, saham, emas dan lain sebagainya.

Misal kamu membeli saham perusahaan Tesla dengan harga Rp 10 juta pada 5 tahun lalu, mungkin hari ini nilai saham Tesla yang kamu miliki sudah meningkat ratusan persen hingga kamu memiliki jumlah aset ratusan juta rupiah saat ini.

Dari situlah keuntungan investasi diperoleh. Namun, berinvestasi pada aset tertentu memerlukan strategi dan tujuan masing-masing. Jangan mudah tergiur dengan angka nominal yang besar. Karena prinsip dasar investasi adalah: “HIGH RISK, HIGH RETURN”. Artinya, semakin besar risikonya, semakin besar keuntungannya.

Tidak ada instrumen investasi yang menjanjikan keuntungan besar dengan risiko yang kecil. Tidak ada. Mencari uang tidak semudah itu, Sob!

Apa yang Harus Dipersiapkan Sebelum Berinvestasi

Sebelumnya, Dompet Kilat ingin menggaris bawahi bahwa setiap instrumen investasi memiliki risikonya masing-masing. DO AT YOUR OWN RISK!

Nah, untuk meminimalisir risiko pada aktivitas investasi, kita harus memahami dulu langkah-langkah dasar yang harus dilakukan sebelum memulai berinvestasi dan memilih instrumen investasi yang akan kita gunakan.

  • Memiliki Tujuan Jelas

Tanpa tujuan yang jelas, maka akan sulit menentukan langkah apa yang harus diambil. Tujuan akan mempengaruhi investasi seperti apa yang harus dilakukan. Sebut saja tujuan investasinya adalah tabungan masa pensiun, membangun rumah, dana pendidikan anak, membuka usaha atau bahkan sekedar jalan-jalan ke luar negeri.

Tujuan investasi nantinya akan disesuaikan dengan instrumen investasi apa yang tepat, jangka waktu berapa lama dan berapa uang yang akan diinvestasikan.

  • Menentukan Modal yang Akan Diinvestasikan

Kamu harus menentukan berapa modal yang akan kamu investasikan. Modal ini harus disiapkan tanpa mengganggu aktivitas konsumsi sehari-hari, tabungan, tanggungan atau cicilan, dana darurat dan lain sebagainya. Sama seperti memulai bisnis, modal untuk investasi harus dipisah dari dana lainnya. Sebab, investasi memiliki risiko untuk rugi.

Jadi, seandainya mengalami kerugian, modal tersebut tidak sampai mempengaruhi kondisi keuanganmu secara langsung. Modal ini juga akan berpengaruh terhadap jenis investasi, misal saham, reksadana, emas, atau properti.

  • Memahami Profil Risiko

Setiap investor harus mengenali dirinya sendiri dan memahami profil risiko yang ada pada dirinya. Biasanya, hal ini dilakukan oleh penasihat keuangan. Karena profil dan karakteristik setiap orang akan berpengaruh terhadap instrumen investasi apa yang akan diambil.

Mengenali profil risiko diri sendiri dan profil risiko pada instrumen investasi yang akan diambil adalah langkah yang tepat sebelum memulai berinvestasi. Bagaimanapun, segala hal yang berhubungan dengan perputaran uang memiliki kemungkinan untuk untung atau rugi.

  •  Memiliki Dana Darurat

Setiap investor sebaiknya terlebih dahulu memiliki dana darurat sebagai cadangan sekitar 3 – 12 bulan biaya pengeluaran bulanan. Hal ini adalah salah satu pertimbangan terpenting untuk kamu yang berencana melakukan investasi.

Jangan sampai rencana investasi kamu jadi berantakan dan terpengaruh karena ada kondisi yang mengharuskan kamu untuk menggunakan dana khusus investasi. Oleh karena itu, memiliki dana darurat adalah salah satu cara terbaik untuk mencegah hal ini terjadi.

Investasi adalah salah satu aktivitas menabung yang sangat penting untuk mencapai tujuan-tujuan hidup kamu. Hidup ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apa lagi untuk kamu yang memiliki cita-cita mencapai financial freedom.

Nilai uang kamu hari ini juga bisa menjadi mengalami penurunan karena adanya inflasi. Oleh sebab itu, kalau kamu punya uang lebih dan hanya menyimpannya di bawah kasur atau di rekening bank, lebih baik uang itu diinvestasikan. Kalau selama ini kamu bekerja untuk uang, investasi yang tepat dapat membuat uang bekerja untuk kamu!

Jenis-jenis Instrumen Investasi yang Populer di Indonesia

Setelah melakukan panduan sederhana untuk berinvestasi yang kami berikan. Saatnya kamu untuk mengenal lebih dalam instrumen investasi. Sebenarnya, ada banyak sekali instrumen investasi yang bisa kamu manfaatkan untuk mengembangkan uang. Namun, tim Dompet Kilat hanya akan menuliskan instrumen-instrumen yang memang cukup populer di Indonesia.

Berikut ini beberapa instrumen investasi dari yang risikonya paling rendah:

1.  Deposito

Instrumen investasi ini memiliki tingkat risiko yang paling rendah. Mungkin, kemungkinan gagalnya adalah apabila Bank tempat kamu menaruh deposito mengalami fraud atau bangkrut. Sebetulnya, deposito ini mirip dengan tabungan di bank. Namun jika dibandingkan dengan tabungan, ada dua hal yang membedakannya, yaitu tingkat bunga dan adanya waktu jatuh tempo.

Suku bunga deposito lebih tinggi dibandingkan dengan bunga tabungan biasa. Secara umum, bunga pada deposito ada di kisaran 5 – 6 persen per tahunnya. Suku bunga pada deposito ini bukanlah angka yang saklek dan tetap. Ia akan selalu berubah-ubah tergantung dengan kondisi perekonomian sebuah negara.

Ada juga beberapa Bank yang menawarkan suku bunga lebih dari 6 persen. Semakin banyak uang yang diinvestasikan, biasanya bunga depositonya juga semakin tinggi. Biasanya, Bank yang valuasi pasarnya lebih kecil akan menawarkan suku bunga yang lebih tinggi untuk menarik nasabah.

Uang yang diinvestasikan pada deposito tidak bisa diambil sewaktu-waktu layaknya tabungan biasa. Ada tenor yang mengikat. Sebelum deposito jatuh tempo, kamu tidak bisa menyentuhnya sama sekali. Biasanya, ada penalty yang harus dibayarkan kalau kamu mengambil uang sebelum waktunya.

Tenor deposito cukup bervariasi. Setiap Bank memiliki kebijakannya masing-masing untuk itu. Ada yang dimulai dari 6 bulan, 12 bulan hingga jangka waktu tertentu.

2.  Obligasi

Obligasi adalah istilah dalam pasar modal untuk menyebut surat pernyataan hutang penerbit obligasi terhadap pemegang obligasi. Ringkasnya, penerbit obligasi adalah pihak yang berutang dan pemegang obligasi adalah pihak yang memberikan hutang.

Nah, obligasi biasanya diterbitkan oleh negara sebagai sumber pendanaan untuk membiayai sebagian defisit anggaran belanja dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Karena diterbitkan oleh negara, risiko berinvestasi dalam obligasi tergolong rendah.

Keuntungan yang diperoleh dari obligasi juga lebih tinggi dibandingkan deposito. Suku bunga obligasi pemerintah Indonesia seri SBR007 pada periode 11 Januari 2021 sampai dengan 10 April 2021 adalah sebesar 7,5 persen. Suku Bunga Obligasi Pemerintah RI Seri SBR007 Periode 11 Januari 2021 s.d. 10 April 2021 (bi.go.id)

Dalam obligasi, dituliskan jatuh tempo pembayaran utang beserta bunganya (kupon) yang menjadi kewajiban penerbit obligasi terhadap pemegang obligasi. Jangka waktu obligasi yang berlaku di Indonesia umumnya 1 hingga 10 tahun. Jadi, profil risiko dari instrumen investasi yang satu ini tergolong cukup rendah.

3.  Emas

Logam mulia emas sudah dimanfaatkan sejak dulu oleh umat manusia untuk melakukan transaksi barang. Bahkan, kemunculan uang pada awalnya harus memiliki underlying emas sebagai landasan nilai sebuah mata uang. Namun kini situasinya lebih kompleks, banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi nilai mata uang.

Bagi kamu yang lebih tertarik dengan jenis investasi fisik dengan nilai intrinsik yang lebih jelas, emas bisa jadi instrumen investasi yang cukup menarik. Sama halnya dengan deposito, risiko investasi emas juga rendah.

Tidak ada kenaikan yang pasti berapa bunga yang diperoleh dalam berinvestasi emas. Kenaikan harga emas dipengaruhi oleh kondisi perekonomian global. Nilainya cenderung stabil dan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Jika ingin berinvestasi emas, sebaiknya pilih emas batangan. Berbeda dengan emas perhiasan, nilai emas batangan ini murni dinilai dari beratnya. Kamu juga harus menyiapkan tempat untuk menyimpan emas yang sudah dibeli. Untuk penyimpanan sendiri, Anda bisa menyimpannya sendiri atau menyewa deposit box di bank.

4.  Properti

Investasi properti memiliki beberapa kesamaan dengan investasi emas. Terdapat benda fisik yang kamu miliki di sini. Nilainya juga dipastikan akan terus mengalami peningkatan tanpa banyak fluktuasi. Hal ini dikarenakan dengan jumlah pasokan tanah yang terbatas.

Karena pasokannya terbatas dan permintaannya terus meningkat. Nyaris mustahil harga properti bisa mengalami penurunan. Kecuali jika ada peristiwa luar biasa tertentu yang mempengaruhi permintaan masyarakat untuk membeli properti.

Ada beberapa model investasi properti yang biasa digunakan. Cara yang paling sederhana adalah dengan membeli tanah, membangun properti di atasnya dan menjualnya saat harga dinilai sudah cukup tinggi. Sedangkan untuk cara kedua, kamu bisa menyewakan properti untuk mendapatkan tambahan pemasukan.

Jangan lupa untuk mempertimbangkan risiko seperti kerusakan bangunan. Meski risiko investasi ini terbilang rendah, properti adalah aset yang bisa rusak oleh waktu. kamu harus merawatnya agar nilainya tetap terjaga. Biaya perawatan yang sudah dikeluarkan ini nantinya juga perlu dipertimbangkan saat hendak menjual properti.

Instrumen investasi yang satu ini tergolong sebagai investasi jangka panjang. Jadi untuk mendapatkan return, kamu memang harus menahannya dalam waktu yang cukup panjang. Selain itu, investasi properti juga agak sulit dicairkan karena menjual properti tidak semudah menjual kacang yang nilainya murah. Ada berbagai administrasi yang harus dilewati sebelum properti tersebut terjual.

5.  Reksa Dana

Apa itu reksadana? Singkatnya, reksa dana adalah sebuah instrumen investasi di mana dana dari beberapa investor dikumpulkan menjadi satu untuk kemudian diinvestasikan ke instrumen-instrumen investasi yang ada di pasar modal.

Reksa dana sendiri terbagi menjadi lima jenis. Kelima jenis reksa dana ini meliputi reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana campuran dan reksa dana index.

Setiap jenis reksa dana memiliki potensi dan risiko yang berbeda beda. Untuk risiko terendah ada reksa dana pasar uang. Sedangkan untuk potensi keuntungan terbesar dengan risiko yang juga tinggi adalah reksa dana saham.

Instrumen investasi yang satu ini terbilang cukup populer di kalangan investor, khususnya para investor pemula yang memiliki keterbatasan dana. Untuk dapat berinvestasi di reksa dana, kamu perlu untuk menggunakan jasa sekuritas dan manajer investasi.

Sangat disarankan untuk memilih jasa yang tepat dan sudah memiliki lisensi dan mendapat izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jasa yang menawarkan perputaran uang tentunya memiliki risiko yang cukup tinggi.

6.  Saham

Belakangan ini masyarakat Indonesia cukup aware dengan saham. Banyak yang memulai untuk berinvestasi saham. Harus dipahami, bahwa saham ini memang memiliki potensi keuntungan yang tinggi. Namun, keuntungan yang tinggi juga berarti memiliki risiko yang sama tinggi.

Pada saat kamu membeli saham, pada dasarnya kamu membeli sebagian kepemilikan atas perusahaan yang mengeluarkannya. Semakin banyak jumlah saham yang kamu miliki pada perusahaan tertentu, semakin besar pula persentase kepemilikan perusahaan yang kamu dapatkan.

Keuntungan investasi saham biasanya berasal dari dividen dan pertumbuhan nilai saham itu sendiri. Dividen sendiri diambil dari keuntungan bersih yang diperoleh perusahaan. Namun perlu dicatat, tidak semua perusahaan membagikan dividen kepada investornya. Beberapa perusahaan justru memilih menggunakan keuntungan yang didapat untuk mengembangkan bisnisnya.

Jika dibandingkan dengan jenis-jenis investasi sebelumnya, risiko investasi saham terbilang yang paling tinggi. Butuh pemahaman dan analisis yang cukup mendalam sebelum memutuskan untuk membeli saham sebuah perusahaan. Namun sebagai alternatif, saat ini ada reksa dana saham yang risikonya lebih rendah namun memiliki potensi keuntungan mendekati investasi saham.

7. Mata Uang Kripto

Secara bahasa, cryptocurrency terdiri dari dua kata cryptography yang memiliki arti kode rahasia dan currency yang berarti mata uang. Sederhananya, cryptocurrency merupakan mata uang digital yang berbasiskan kode-kode virtual di dalam komputer. Ya, gak ada bentuk fisiknya. Untuk menjaga keamanannya, cryptocurrency akan dilindungi sandi-sandi yang rumit.

Mata uang konvensional seperti rupiah, dolar, euro dan lain sebagainya bersifat sentral. Dijamin oleh institusi dan otoritas tertentu seperti Bank dan negara. Dalam mata uang konvensional, bank menjadi perantara dan mencatat setiap transaksi untuk melacak kemana uang tersebut mengalir.

Nah, cryptocurrency ini bersifat desentralisasi. Artinya, gak ada pihak yang menjadi perantara dalam sebuah transaksi. Pembayaran yang dilakukan menggunakan mata uang digital berlangsung secara peer-to-peer, dari pengirim langsung ke penerima. Tanpa perantara.

Instrumen investasi ini merupakan instrumen yang sedang naik daun. Banyak sekali orang yang mencoba berinvestasi pada mata uang kripto. Return yang cukup tinggi membuat investor tertarik. Namun, harus dipahami bahwa mata uang kripto merupakan salah satu instrumen investasi yang memiliki profil risiko sangat tinggi karena harganya yang sangat fluktuatif.

8.  Peer to Peer Lending seperti Dompet Kilat

Jenis investasi peer to peer lending tergolong masih cukup baru di Indonesia. Meski demikian, popularitasnya terus melejit seiring dengan kejelasan hukum dan kemudahan yang ditawarkannya. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya perusahaan fintech lending seperti Dompet Kilat yang menjalankan model bisnis ini.

Jumlah uang yang berputar dalam investasi peer to peer lending juga terus tumbuh setiap tahunnya. Dalam peer to peer lending, pada dasarnya kamu meminjamkan sejumlah uang kepada pihak yang membutuhkan, baik itu individu ataupun badan usaha. Sama seperti pinjaman dari bank, keuntungan jenis investasi ini berasal dari bunga pinjaman yang telah disepakati bersama.

Suku bunga peer to peer lending ini terbilang cukup menarik. Sebagai contoh, Dompet Kilat menawarkan suku bunga pinjaman mencapai 18% per tahunnya. Selain itu, kamu juga bisa mulai berinvestasi di peer to peer lending mulai dari Rp 100.000 saja.

Untuk berinvestasi di peer to peer lending, pastikan fintech tersebut sudah mendapatkan izin beroperasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Saat ini banyak sekali fintech ilegal yang mungkin membuat kamu bukannya untung tapi malah buntung.

Tidak hanya berinvestasi untuk mengembangkan uangmu dan mendapat keuntungan. Berinvestasi di peer to peer lending seperti Dompet Kilat juga memiliki dampak sosial yang cukup tinggi. Dompet Kilat memiliki misi untuk mewujudkan ekonomi inklusif bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Dompet Kilat bermitra dengan UMKM produktif seperti peternak udang, unggas, petani dan UMKM lainnya. Hal ini sebagai perwujudan misi Dompet Kilat yang ingin memajukan hidup saudara-saudara kita yang kesulitan mendapat pinjaman dari Bank konvensional.

Itulah informasi seputar instrumen investasi yang bisa kamu pelajari. Kalau ingin mulai berinvestasi, jangan sampai berhenti di laman ini saja. Terus pelajari strategi-strategi dan wawasan kamu seputar dunia ekonomi dan keuangan. Dompet Kilat melalui blog ini juga akan terus memberikan edukasi dan menambah wawasan Sobat Kilat tentang ekonomi dan keuangan.

Jadi, jangan lupa untuk terus memantau setiap postingan dari Dompet Kilat. Nah, kira-kira kamu mau mulai berinvestasi dari mana? Instrumen investasi apa yang cocok dengan tujuan dan profil risiko kamu? Yuk diskusikan sama tim Dompet Kilat!

Referensi:

Bank Indonesia (2021) | Suku Bunga Obligasi Pemerintah Ri Seri SBR007 Periode 11 Januari 2021 S.D. 10 April 2021

Bareksa (2020) | Survei DBS : Pandemi Covid-19 Buat Masyarakat Gemar Menabung dan Investasi

Bisnis.com (2020) | Pandemi Virus Corona Bikin Masyarakat Rajin Menabung

CNBC Indonesia (2020) | Bukti Resesi: Masyarakat Ramai-ramai Menabung, Takut Krisis?

Investor Daily Indonesia (2020) | Animo Masyarakat Menabung Saat Pandemi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © PT Indo Fin Tek 2016 - 2021 | Newsphere by AF themes.