Indonesia Krisis Petani Muda!
3 min read
Photo by Rattasat from Pexels
Indonesia pernah dikenal sebagai negara agraris. Artinya, mayoritas penduduknya memiliki mata pencaharian sebagai petani. Secara geografis, tanah Indonesia adalah surga untuk petani karena terletak di dekat garis khatulistiwa. Krisis petani merupakan hal yang aneh di tanah se-subur ini!
Gak heran jika band legendaris Indonesia, Koes Ploes sampai menggubah lagu tentang kesuburan tanah Indonesia:
“Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.”
Ya, para petani kita memang gak perlu repot-repot dan menggunakan berbagai teknik untuk menumbuhkan tanaman di tanah Indonesia. Toh, Indonesia memang dianugerahi tanah yang subur dengan musim yang sangat cocok untuk pertanian.
Tapi itu dulu, Sob! Saat ini Indonesia gak lagi betul-betul bisa disebut sebagai negara agraris. Sejak 30 tahun terakhir, jumlah petani terus merosot. Indonesia berada di ambang krisis petani muda.

Menurut laporan Bank Dunia, pada tahun 1990, terdapat 55,10% penduduk Indonesia yang bekerja di sektor pertanian. Jauh lebih tinggi dibandingkan sektor jasa (29,31%) dan sektor industri (15,19%).
Namun, pada tahun 2009 penduduk Indonesia yang bekerja di sektor pertanian menurun ke angka 40,45%. Kalah dari sektor jasa yang mencapai 41,25%.
Di tahun 2019, sektor pertanian merosot semakin tajam ke angka 28,5%. Sedangkan, sektor jasa meningkat menjadi 49,14%. Sektor industri bertengger di posisi ke-3 dengan 22,36%.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memprediksi jika trennya terus berlanjut, maka pada tahun 2063, Indonesia mengalami krisis petani bahkan terancam gak punya lagi penduduk yang berprofesi sebagai petani!
Tentunya ini bukanlah sebuah tren yang bisa dibanggakan. Kehilangan petani bisa mengakibatkan krisis pangan yang dahsyat. Bagaimana Indonesia mau berdikari dan berdaulat kalau urusan perut saja harus bergantung pada negara lain?
Mengapa Krisis Petani Terjadi?
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah rumah tangga yang melakukan usaha pertanian cenderung fluktuatif. Pada 2003, tercatat ada 31,2 juta rumah tangga, lalu turun menjadi 26,1 juta pada 2013.
Pada 2018, ada kenaikan jumlah rumah tangga petani menjadi 27,7 juta. Naik 6,1% jika dibandingkan pada tahun 2013. Oh iya, rumah tangga pertanian artinya sekurang-kurangnya terdapat satu anggota keluarga yang menjadi petani.
Namun, kenaikan tersebut hanya terjadi pada kelompok petani yang berusia di atas 45 tahun. Kelompok usia di bawah 45 tahun justru mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan minat anak muda untuk menjadi petani sangat rendah.



Rendahnya minat anak muda menjadi petani disebabkan karena pendapatan yang rendah di sektor pertanian. Berdasarkan data BPS, rata-rata upah pekerja di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan hanya sebesar Rp 1,92 juta per bulannya! Hanya lebih tinggi sedikit dibandingkan UMR Yogyakarta.
Dilansir dari Tirto, krisis petani juga disebabkan karena para petani tua mendorong anaknya bisa bekerja kantoran di kota daripada meneruskan kariernya.
Penyebabnya adalah gak lain dan gak bukan adalah karena kesejahteraan. Bekerja di kantor dianggap lebih aman dari sisi finansial karena mendapat upah bulanan.
Mantan Wakil menteri Pertanian, Bayu Krisnamurthi mengatakan dari data kemiskinan, sebagian besar kemiskinan tersebar di pedesaan di mana pendapatan penduduk bergantung dari sektor pertanian.
Ia juga membenarkan bahwa masalah kesejahteraan inilah yang pada akhirnya membuat krisis petani karena generasi muda gak lagi tertarik untuk menjadi petani.
Bahkan, sekitar setengah petani menjadi petani karena terpaksa. Gak ada pekerjaan lain! Sungguh miris, tanah subur di negeri agraris ini harus merasakan tetesan air mata dari para petani yang menjerit karena kemiskinan.
Selain soal kesejahteraan, berkurangnya jumlah petani juga disebabkan oleh semakin berkurangnya lahan pertanian. Pada tahun 2009, lahan baku sawah tercatat mencapai 8,1 juta hektare.
10 tahun berikutnya pada 2019, luas lahan baku sawah berkurang 604 ribu hektare menjadi 7,46 juta hektare. Krisis petani akan semakin nyata pada tahun-tahun mendatang.
Masalah berkurangnya lahan pertanian sebetulnya bermuara pada kesejahteraan. Banyak petani yang mengalihfungsikan lahannya agar bisa lebih produktif. Gak sedikit juga yang menjualnya dalam rangka usaha bertahan hidup.
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengakui banyak lahan pertanian yang beralih menjadi industri dan jalan.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Persoalan krisis petani ini memang membutuhkan usaha kolektif yang terencana dan dieksekusi dengan baik. Peran pemerintah sangatlah penting untuk mencegah terjadinya krisis petani, yaitu dengan meningkatkan kesejahteraannya.
Guru Besar Ilmu Pertanian IPB, Dwi Andreas meminta pemerintah meningkatkan pendapatan petani. Caranya dengan memberikan perlindungan harga di tingkat usaha tani.
Menurutnya, pemerintah masih belum memberika nperlindungan harga yang layak kepada petani. Sebagai contoh, harga pokok penjualan gabah yang ditetapkan pemerintah masih berada di bawah biaya produksi.
Bagaimana caranya petani bisa sejahtera jika harga jual hasil pertaniannya ditetapkan di bawah harga produksi?
Salah satu faktor lainnya adalah skala usaha dari petani yang masih kecil dan belum memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas.
Skala usaha yang kecil belum bisa meraih margin keuntungan yang besar. Oleh karena itu, sebagai fintech peer-to-peer lending, Dompet Kilat berupaya untuk membantu petani dengan memberikan akses modal pada petani.
Hal ini diharapkan dapat membuat petani membesarkan skala usahanya sehingga bisa meningkatkan produktivitas dan mendapatkan margin keuntungan yang cukup. Kesejahteraan petani adalah prioritas kami.
Bukan hanya akses permodalan, Dompet Kilat juga memberikan edukasi untuk memanfaatkan teknologi pertanian. Ini merupakan salah satu faktor yang sangat penting. Sebab, masih banyak petani kita yang menggunakan cara-cara tradisional yang kurang efektif dan efisien.
Setelah memberikan akses modal dan edukasi kepada para petani, Dompet Kilat juga akan mengikutsertakan mitra petani ke dalam ekosistem yang tepat. Hal ini dapat membuat unit usaha terhubung dari hulu sampai hilir.
Sejauh ini, cara-cara yang kami lakukan cukup berhasil untuk meningkatkan kesejahteraan petani mitra Dompet Kilat. Kami berharap apa yang kami kerjakan ini bisa berdampak baik bagi para petani dan juga Indonesia.
Dengan meningkatnya kesejahteraan petani, diharapkan anak muda tertarik lagi untuk menggarap tanah Indonesia yang subur.
Ikuti terus update dari Dompet Kilat melalui blog dan sosial media untuk mendapatkan informasi seputar dunia ekonomi, keuangan, bisnis dan lain sebagainya.
Referensi:
CNBC Indonesia (2019) | RI Terancam Krisis Petani: Orang Jadi Petani karena Terpaksa!
Kata Data (2021) | Indonesia dalam Ancaman Krisis Regenerasi Petani
Tirto (2017) | Indonesia Krisis Regenerasi Petani Muda

