Apa Sih Bedanya Active dan Passive Income? Pelajari Perbedaannya dan Cara Mendapatkannya!

4 min read

Sebagian besar kita pasti tahu cara untuk mendapatkan penghasilan adalah dengan bekerja. Baik itu bekerja untuk orang lain di sebuah perusahaan atau bekerja sendiri dengan mendirikan usaha.  Nah, mencari uang dengan bekerja disebut sebagai active income atau penghasilan aktif. Pernahkah kamu mendengar tentang passive income atau penghasilan pasif?

Istilah passive income bukan hal yang baru di dunia finansial. Berbeda dengan active income yang diperoleh dari bekerja, passive income bisa membuat kamu kaya raya tanpa bekerja. Sebuah penghasilan yang menarik bukan? 

Namun, apa sebenarnya perbedaan antara dua jenis penghasilan tersebut? Dan, bagaimana cara mendapatkannya? Mari kita bahas. 

Active Income

Penghasilan aktif diperoleh dari hasil kerja. Kamu menukarkan waktu, tenaga dan pikiran untuk mendapatkan penghasilan. Misalnya, kamu bekerja untuk suatu perusahaan, setelah sebulan bekerja kamu akan diberi gaji sebagai bentuk apresiasi atas waktu, tenaga dan pikiran yang sudah kamu curahkan untuk kemajuan perusahaan. 

Contoh penghasilan aktif bisa kamu dapatkan jika kamu adalah seorang karyawan swasta, PNS, pengacara, dokter, freelance dan semua jenis pekerjaan lainnya. Lalu, apakah penghasilan dari seorang pengusaha termasuk aktif atau pasif?

Jika pengusaha tersebut masih bekerja untuk usahanya maka penghasilannya termasuk dalam active income. Pokoknya, selama cara mendapatkan penghasilannya dengan menukar waktu, tenaga dan pikiran, maka ia termasuk dalam active income.

Meskipun pasti dan jumlahnya relatif tetap tiap bulannya, tapi penghasilan aktif juga memiliki risiko. Jika kamu sudah tidak bekerja lagi maka secara otomatis penghasilan aktif juga akan berhenti. 

Bisa saja sewaktu-waktu kita diberhentikan dari perusahaan tempat kita bekerja. Maka penghasilan kita akan berhenti.

Saat pensiun penghasilan kitapun berhenti, padahal kebutuhan untuk bertahan hidup sama sekali tidak berhenti. Meskipun ada beberapa pekerjaan yang tetap memberikan gaji pensiun tiap bulannya, namun jumlahnya pasti tidak sama seperti saat kita bekerja. 

Passive Income

Passive income diperoleh tanpa harus bekerja atau melakukan usaha. Namun, bukan berarti kamu sama sekali tidak berpikir. Bisa saja sih tanpa berpikir kalau Sobat adalah anak sultan yang punya warisan di mana-mana. Tentunya, tidak banyak orang yang memiliki privilege seperti itu. 

Contoh passive income yang bisa kamu dapatkan adalah dengan menyewakan properti, kendaraan, hasil dari kerjasama bisnis, penghasilan dari bisnis, investasi di sejumlah instrumen dan lain sebagainya. Sebagai catatan, penghasilan dari bisnis adalah ketika kamu tidak lagi bekerja untuk bisnis tersebut. Artinya, bisnisnya sudah berjalan secara otomatis. 

Nah, untuk mendapatkan passive income, kamu perlu berpikir untuk mengatur strategi dan cara yang tepat agar asetmu berkembang. Jadi sebetulnya bukan betul-betul tidak bekerja sama sekali. Hanya saja, lebih banyak dalam hal berpikir untuk mengelola aset. 

Yang membuat passive income ini menggiurkan adalah kamu tidak perlu bekerja terus menerus untuk mendapatkannya. Ketika kamu berhenti bekerja, maka penghasilan ini masih bisa masuk ke kantongmu. Inilah yang dikenal sebagai uang yang bekerja untuk kamu.

Kuadran Penghasilan

Seorang ahli finansial yang juga penulis buku best seller Rich Dad, Poor Dad, Robert Kiyosaki membagi sumber penghasilan menjadi empat bagian yang disebutnya sebagai kuadran:

(E) Employee / Karyawan: Kuadran ini merupakan kelompok orang yang bekerja sebagai seorang karyawan atau bekerja untuk orang lain. Siapapun yang bekerja untuk membantu pemilik bisnis masuk dalam kuadran ini. 

Pendapatan dari kelompok ini adalah gaji sebagai upah yang diberikan oleh perusahaan atau bisnis tertentu.

(S) Self Employee: Kuadran ini merupakan kelompok orang yang mendapat pendapatan dari kinerja mereka sendiri. Termasuk dalam kelompok ini adalah pemilik usaha kecil, youtuber, selebriti, seniman, freelance, driver ojol hingga konsultan. 

Pemasukan kelompok ini bergantung dari waktu dan usaha yang dilakukan. Semakin banyak waktu dan usaha yang diluangkan, semakin besar pula pendapatannya.

(B) Business Owner: Banyak yang keliru menyamakan kuadran S dengan B. Perbedaannya, pemilik bisnis dalam kuadran S masih harus bekerja untuk mengurus bisnisnya. 

Pada kuadran B, pendapatan mereka diperoleh dari bisnis yang sudah berjalan otomatis. Jadi, mereka tidak perlu bekerja atau meluangkan waktu untuk bisnisnya alias sudah mendapatkan passive income.

(I) Investor: Pada kuadran I, mereka mendapatkan pendapatan dari uang yang diinvestasikan di sejumlah instrumen. Jadi, mereka tidak memiliki bisnis dan tidak bekerja untuk bisnis tersebut. Yang bekerja adalah uang investasinya yang dimanfaatkan oleh pelaku bisnis. 

Nah, ketika bisnis tersebut semakin besar. Uang yang kamu investasikan juga bisa ikut tumbuh seiring dengan pertumbuhan bisnis tersebut.

Kiyosaki mengklasifikasikan pola tersebut ke dalam dua jenis kuadran berdasarkan penghasilannya. Kuadran kiri (Employee dan Self Employed) dengan penghasilan aktif dan kuadran kanan (Business Owner dan Investor).

Mayoritas orang Indonesia hanya memiliki satu sumber penghasilan, sedangkan jika ingin cepat mencapai kebebasan finansial, kamu harus memiliki lebih dari satu sumber penghasilan. 

Selain itu, memiliki sumber pendapatan lebih satu juga mencegah kita dari kondisi buruk seperti pandemi yang sewaktu-waktu bisa menutup satu-satunya sumber pendapatan kita. Bisa saja sewaktu-waktu kita di PHK dari perusahaan tempat kita bekerja atau bisnis kita bangkrut karena kondisi yang tidak bisa dihindari. 

Mendapatkan Passive Income

Lalu, bagaimana caranya untuk mendapatkan passive income? Cara paling mudah (jika kamu bukan anak sultan) adalah dengan mengubah penghasilan aktif ke sejumlah aset. 

Artinya, kamu perlu untuk menyisihkan sebagian penghasilanmu untuk investasi. Instrumennya sih bergantung dari kondisi dan profil risiko masing-masing. 

Sebagai gambaran kamu bisa menyisihkan penghasilanmu untuk membangun properti, dijadikan modal bisnis, membeli emas, saham dan lain sebagainya. 

Tentunya bukan hal yang mudah untuk banyak orang untuk membangun properti. Kecuali lagi-lagi kalau kamu adalah anak sultan yang memiliki banyak warisan. 

Namun, untuk membangun sebuah usaha atau bisnis, ada dua langkah yang bisa ditempuh. Untuk bisa menjadi passive income, maka bisnis yang dibangun harus memiliki sebuah sistem yang dapat menghasilkan keuntungan meskipun kamu tidak lagi bekerja. 

  1. Menciptakan Sistem

Semua bisnis yang berhasil pasti memiliki sistem yang baik. Dengan sistem, maka bisnis tersebut akan berjalan dengan otomatis meskipun pemiliknya sudah tidak lagi bekerja disana.

Untuk mencapai bisnis otomatis, kamu perlu memiliki beberapa hal yang mungkin membutuhkan modal, yaitu tempat usaha, karyawan, SOP (Standar Operasional Prosedur), branding, teknik pemasaran dan lain-lain. Kebutuhan-kebutuhan tersebut tergantung dari industri apa yang ingin digeluti.

Cara ini memang memiliki keunggulan karena kamu dapat mengatur dan mengendalikan skema bisnis sesuai dengan idealisme. Namun, kamu butuh keahlian, waktu dan modal yang cukup besar untuk bisa berhasil. 

  1. Membeli Sistem

Cara ini bisa mempersingkat waktu dan energi dengan singkat. Hanya saja, kamu membutuhkan modal biaya yang lebih besar jika ingin membeli sistem. Sebagai contoh, kamu bisa membeli franchise sebuah brand makanan. 

Kamu tidak perlu lagi repot-repot membuat SOP, melakukan riset untuk menu, branding dan lain sebagainya. Semuanya sudah akan disediakan oleh sang pemilik sistem. Bahkan, ada juga yang menyediakan tempat dan karyawan. Kamu betul-betul hanya perlu membawa uang. Namun, semua tergantung dari kesepakatan. 

Selain biayanya yang cukup tinggi, cara ini juga memiliki kelemahan yaitu kamu tidak diperkenankan untuk mengubah sistem. Biasanya, franchise juga mensyaratkan pembagian hasil dengan pemilik sistemnya. 

  1. Investasi atau Trading

Sebelum era digital, untuk mendapatkan passive income, kamu harus memiliki modal besar untuk menciptakan sistem atau membeli sistem. Namun, saat ini hal tersebut sudah tak berlaku. Dengan modal yang tidak terlalu besar, kamu bisa memperoleh passive income. 

Caranya adalah dengan berinvestasi atau trading. Saat ini sudah banyak sekali platform yang menyediakan jasa investasi atau trading. Instrumen investasinya pun macam-macam. Kamu bisa memulai dari investasi emas, obligasi, saham, valuta asing hingga yang terbaru peer-to-peer lending seperti Dompet Kilat dan cryptocurrency. 

Namun, yang namanya investasi pasti ada peluang gagal. Selalu ingat hukum investasi: High Risk, High Return. Semakin tinggi risikonya, maka semakin tinggi pula hasil yang bisa didapatkan. 

Secara garis besar, perbedaan signifikan antara pendapatan aktif dan pasif adalah dari segi usaha dan waktu. “Kerja cerdas, bukan kerja keras”. Nah, untuk bisa bekerja cerdas dalam investasi, kamu perlu untuk belajar betul-betul soal instrumen investasinya. Jangan sampai berinvestasi karena hanya ingin ikut-ikutan atau FOMO. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © PT Indo Fin Tek 2016 - 2021 | Newsphere by AF themes.