Silicon Valley, Pusat Teknologi Dunia yang Ingin Dicontoh Bukit Algoritma

3 min read
silicon valley menjadi acuan bukit algoritma

Indonesia akan membangun kawasan ekonomi khusus (KEK) di Sukabumi, Jawa Barat. Kawasan ini akan disebut sebagai Bukit Algoritma, yang diproyeksikan untuk menjadi pusat riset, inovasi dan teknologi tinggi, selayaknya Silicon Valley di Amerika Serikat. 

Politikus PDIP sekaligus Ketua Pelaksana pembangunan Bukit Algoritma, Budiman Sudjatmiko mengatakan, “Nantinya Bukit Algoritma akan jadi salah satu pusat untuk pengembangan inovasi dan teknologi tahap lanjut. Semisal kecerdasan buatan, robotik, drone hingga panel surya untuk energi yang bersih dan ramah lingkungan.”

Budiman ingin dari lembah hijau berudara sejuk di kawasan Sukabumi itu muncul inovasi dan teknologi terkini yang dilahirkan oleh perusahaan besar seperti Google, Facebook, Microsoft, Apple, Intel yang lahir dari kawasan yang disebut Silicon Valley.

Nah, apa sebenarnya Silicon Valley yang ingin dijadikan contoh proyek Bukit Algoritma di Sukabumi? Sobat Kilat berada di halaman yang tepat, kali ini kami akan memberikan informasi Kilat seputar Silicon Valley.

Sejarah Kilat Silicon Valley

Silicon Valley terletak di sebuah kawasan di selatan Teluk San Fransisco di California Utara, Amerika Serikat. Wilayah ini terdiri dari lebih dari 20 kota seperti Los Altos, Palo Alto, San Jose, Santa Clara dan 20 lainnya. 

Nama Silicon Valley diciptakan oleh pengusaha Ralph Vaerst di tahun 1970-an. Awalnya, berasal dari sejumlah besar produsen chip silikon di kawasan itu. Nama Silicon Valley digunakan secara luas sejak tahun 1980an, berkaitan erat dengan pengenalan produk komputer dari IBM yang menjadikan silikon sebagai bahan dasar komputernya. 

Sebelumnya, Silicon Valley merupakan markas militer. Pada tahun 1930an, stasiun bola udara Angkatan Laut AS didirikan di Santa Clara, diikuti pada 1933 dengan pembuatan pusat penelitian penerbangan dan ruang angkasa yang besar.

Setelah Perang Dunia usai, pengeluaran pemerintah AS meningkat karena mereka memasuki Perang Dingin dan bersaing dengan Uni Soviet dalam rangka mendapatkan keunggulan teknologi. 

Ketika Amerika Serikat mengetahui bahwa Uni Soviet telah berhasil membuat bom atom pada 1949, pihak Kongres Amerika Serikat sepakat untuk melakukan pendanaan yang sangat besar untuk penelitian dan pengembangan senjata dan perangkat komunikasi elektronik. 

Dana besar ini disalurkan ke universitas, laboratorium penelitian dan pabrik amunisi. Universitas Stanford yang terletak di Silicon Valley menikmati sebagian besar dana besar ini.

Awalnya Silicon Valley tak lebih dari sekadar tempat biasa, namun kini telah menjadi identik dengan teknologi maju, pusat startup, markas big tech company dan kiblat cara kerja dan cara berpikir yang disruptif.

Bagaimana Silicon Valley Bisa Menjadi Seperti Saat Ini? 

1. Peran Universitas Stanford

Pertanyaan ini tak akan bisa dijawab tanpa membahas peran Universitas Stanford. Universitas ini selalu fokus untuk mengembangkan sains dan teknologi. Ini telah menjadi tradisi di Universitas Stanford sejak presiden pertamanya membantu mendirikan perusahaan radio nirkabel bersama Federal Telegraph pada 1909.

Dekan Fakultas Teknik Stanford, Fred Terman memiliki ambisi untuk bersaing dengan universitas terkemuka lainnya seperti Harvard dan MIT. Dengan dukungan presiden Stanford, Fred Terman secara radikal menata ulang kurikulum akademis Stanford. 

Ia memprioritaskan program mutakhir dalam fisika, kimia, teknik, sains dan ilmu-ilmu lainnya. Kemudian Terman juga menciptakan Laboratorium Elektronik Stanford.

Setelah itu, Fred Terman memutuskan untuk menggunakan bagian dari kampus besar Stanford untuk membuat pusat bisnis. Stanford menawarkan perusahaan-perusahaan untuk berkantor di kawasan kampusnya dengan janji mereka akan mendapat akses ke laboratorium milik Stanford. 

Nah, ada beberapa perusahaan rintisan (startup) yang tertarik untuk berkantor di kawasan Stanford seperti Hewlett-Packard, Kodak dan General Electric. 

Startup-startup itu menggunakan lab Stanford untuk riset. Mahasiswa Stanford didorong untuk magang dengan perusahaan yang bekerja sama dengan kampus. Di sinilah terjadi interaksi yang intens antara ilmu pengetahuan dan industri (bisnis).

Dari magang tersebut, para mahasiswa jadi lebih mengerti tentang bisnis dan persoalan apa saja yang ada di dunia dan membutuhkan solusi. 

2. Peran Budaya Hippies

budaya hippie dianut oleh banyak mahasiswa Stanford di Silicon Valley
Kontra budaya dari kalangan hippies yang dianut banyak mahasiswa Stanford

Sebuah narasi romantis dari cerita Steve Jobs dan banyak lainnya adalah bahwa Silicon Valley menjadi sarang inovasi karena banyak orang di dalamnya adalah mereka yang menganut hippies, sebuah pemikiran anti kemapanan yang mendalami ide kontra-budaya tahun 1960-an.

Budaya ini membuat banyak mahasiswa Stanford memiliki imajinasi yang tidak biasa tentang dunia. Hal ini membuat mereka memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menyelesaikan masalah.

Mereka juga tidak menyukai budaya formal perusahaan-perusahaan, termasuk dari cara berpakaian, berkomunikasi, berbisnis dan lain sebagainya.

Mereka mengembangkan pola pikir sendiri yang akhirnya mengarah pada efektivitas dan efisiensi. Kita bisa melihat dari cara berpakaian para pendiri Big Tech Company seperti Steve Jobs, Bill Gates, Mark Zuckerberg dan lain sebagainya. Mereka berpakaian secara sederhana dan memiliki efektivitas kerja yang luar biasa.

3. Dukungan Pemerintah

Perusahaan teknologi paling awal yang mendirikan usaha di Silicon Valley mendapat keuntungan dari investasi orang-orang yang sekarang disebut sebagai pemodal ventura, bankir dan pengusaha kaya yang menghargai teknologi. Mereka adalah orang yang benar-benar menghargai inovasi yang solutif.

Pada saat bersamaan, pemerintah juga mengesahkan undang-undang Small Business Investment Act yang menawarkan keringanan pajak sangat tinggi dan jaminan pinjaman federal pada investor. 

Dampak dari undang-undang ini cukup terasa pada tahun-tahun berikutnya dimana ada 500 perusahaan investasi bisnis yang semuanya siap untuk berinvestasi di perusahaan startup.

Dengan kebijakan keringanan pajak yang substansial, industri teknologi telah menjadi penerima utama program kesejahteraan pemerintah meskipun banyak perusahaan telah beralih dari perusahaan rintisan menjadi perusahaan raksasa yang memiliki keuntungan jutaan dolar per tahun.

Mungkinkah Bukit Algoritma Berhasil Meniru Silicon Valley?

Tidak semudah itu, Ferguso. Jika hanya ingin meniru infrastruktur dan besar kawasan yang ada di Silicon Valley, rasanya mungkin saja berhasil. Namun, jika ingin meniru kesuksesan Silicon Valley, maka perlu ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan.

Seperti yang sudah kita bahas, Silicon Valley tidak ujug-ujug dalam semalam menjadi markas bagi ratusan startup teknologi yang brilian. Ada budaya yang gak mungkin dibangun dalam semalam.

Pertama-tama dan yang paling penting adalah harus ada lalu lintas ilmu pengetahuan yang intens. Mereka yang memiliki latar belakang keilmuan yang berbeda harus sering berdiskusi agar bisa menemukan solusi atas sebuah permasalahan dari berbagai sudut pandang. 

Ambil contoh Apple yang didirikan oleh Steve Jobs dan Steve Wozniak. Jobs adalah orang yang memiliki imajinasi liar dan rasa desain yang elegan. Sedangkan Wozniak merupakan seorang yang gila dengan elektronik. Keduanya berkolaborasi dan menghasilkan salah satu perusahaan dengan valuasi tertinggi di dunia: Apple.

Silicon Valley terkenal dengan anak-anak muda berilmu yang doyan berdiskusi di kafe-kafe. Mereka berbincang-bincang sebentar, menemukan solusi dan langsung membuat startup. Ya, memang banyak juga yang gagal. Budaya seperti ini perlu dibangun di Bukit Algoritma jika ingin sukses seperti Silicon Valley.

Tim Dompet Kilat sih cukup senang mendengar kabar ini dan akan dengan senang hati mengucurkan dana untuk berinvestasi di startup-startup yang terlihat menjanjikan!

Ya, masih banyak lagi faktor-faktor agar Bukit Algoritma bisa sukses. Menurut Sobat Kilat, apa lagi yang harus dipenuhi Bukit Algoritma? Apakah mungkin Bukit Algoritma berhasil?

Jangan lupa ikuti terus instagram @dompet.kilat dan blog Dompet Kilat agar terus mendapat informasi seputar dunia ekonomi, bisnis dan keuangan!

Penulis: Fadhel Yafie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © PT Indo Fin Tek 2016 - 2021 | Newsphere by AF themes.