Inilah Kisah Inspiratif 10 Orang Terkaya di Indonesia Tahun 2021!

7 min read
10 orang terkaya di Indonesia

kompas.com

Forbes baru saja merilis daftar orang terkaya di dunia. Pasti Sobat Kilat sudah familiar dengan nama-nama orang terkaya di dunia seperti Jeff Bezos pendiri sekaligus CEO Amazon, Elon Musk CEO Tesla dan SpaceX, Bill Gates pendiri Microsoft serta Mark Zuckerberg pendiri sekaligus CEO Facebook.

Namun, ada satu nama baru di jajaran lima besar orang terkaya di dunia, yaitu: Bernard Arnault CEO dan Chairman dari brand fashion yang sudah biasa kita lihat dikenakan oleh orang-orang kaya. Ya, ia adalah LVMH, Louis Vuitton Moet Hennesy.

Kekayaan mereka sangat luar biasa. Bahkan, kekayaan Jeff Bezos yang sebesar US$ 177 miliar atau setara Rp 2.478 triliun ini nyaris mendekati APBN Indonesia tahun 2021, yaitu sebesar 2.750 triliun. Sungguh jumlah yang sangat fantastis.

Boleh dibilang, setiap benda yang dijual di dunia ini bisa mereka beli. Literally.

Nah, di dalam daftar orang terkaya yang dirilis oleh Forbes, ternyata ada juga beberapa nama orang Indonesia. Ingin tahu siapa saja 10 orang terkaya di Indonesia dan bagaimana kisah singkatnya? Simak terus ulasan Dompet Kilat sampai habis ya, Sob!

10. Pemilik Alfamart, Djoko Susanto: US$ 1,7 Miliar atau Setara Rp 23,8 Triliun

orang terkaya di Indonesia ke-10

Djoko lahir di Jakarta pada 1950 dengan nama Kwok Kwie Fo. Ia pertama kali berbisnis di usia 17 tahun yaitu pada 1967. Saat itu, dia diminta mengurus kios sederhana milik orang tuanya di Pasar Arjuna, Jakarta.

Toko itu dinamakan Sumber Bahagia, yang menjual bahan makanan. Tapi tak lama kemudian, Djoko melihat ada kesempatan yang lebih besar. Kiosnya mulai menjajakan rokok.

Bisnisnya cepat membuat para perokok dan pengusaha grosir serta pengecer menjadi pelanggan tetap. Dia bertaruh, perokok akan membayar lebih banyak daripada yang dibayangkan.

Hal ini menarik perhatian Putera Sampoerna, yang mempunyai perusahaan rokok tembakau dan cengkeh terbesar di Indonesia saat itu. Mereka bertemu pada awal 1980 dan bersepakat pada 1985 untuk membuat 15 kios di beberapa lokasi di Jakarta.

Upaya itu berhasil dan menginspirasi mereka untuk membuka supermarket yang dinamakan Alfa Toko Gudang Rabat. Kedua orang itu kemudian membuka toko Alfa Minimart pada 1994 yang menjadi cikal bakal Alfamart.

Kerja sama Djoko dan Sampoerna berakhir pada tahun 2005 ketika Sampoerna menjual perusahaannya ke Philip Morris. Singkat cerita, Djoko alhasil membeli saham Alfamart sehingga menjadi pemegang saham dominan dengan 65 persen.

Pada 2009, Djoko membawa Alfamart melantai di Bursa Efek Indonesia. Saat itu, Alfamart tercatat sudah memiliki 3.300 gerai. Sekarang, Alfamart memiliki 16.000 gerai.

Djoko Susanto juga memiliki bisnis properti bernama Alfaland yang mengoperasikan Omega Hotel. Dari kedua bisnis inilah pundi-pundi kekayaan Djoko berasal.

9. Pemilik Lippo Group: Mochtar Riady dan Keluarga: US$ 1,7 Miliar atau setara 23,8 Triliun

orang terkaya di Indonesia ke-9

Mochtar lahir di Malang pada 1929 dengan nama Lie Moe Tie. Mochtar Riady sudah bercita-cita menjadi seorang bankir di usia 10 tahun. Ketertarikan Mochtar Riady ini disebabkan karena setiap hari ketika berangkat sekolah, dia selalu melewati sebuah gedung megah yang merupakan kantor dari Nederlandsche Handels Bank (NHB) dan melihat para pegawai bank yang berpakaian rapih dan kelihatan sibuk.

Mochtar memulai karirnya dari mengurus kios kecil mertuanya di Jember. Dalam waktu tiga tahun, Mochtar Riady berhasil membuat kios tersebut menjadi salah satu kios terbesar di kota Jember.

Cita-citanya menjadi seorang bankir akhirnya membuat ia nekad pergi ke Jakarta meskipun tidak punya kenalan siapa-siapa. Di Jakarta, ia banyak berganti pekerjaan sampai akhirnya mendapat kesempatan untuk mengurus Bank Kemakmuran yang sedang bermasalah meskipun ia tidak punya pengetahuan apa-apa soal perbankan.

Mochtar belajar mati-matian sebulan penuh hingga membayar seorang guru privat untuk memahami dasar-dasar akuntansi. Kemudian, hanya dalam setahun, Bank Kemakmuran mengalami kemajuan pesat.

Dari situlah lalu Mochtar Riady berkiprah di dunia perbankan dan membesarkan bank-bank seperti Bank Buana, Panin Bank, hingga penentu arah kebijakan Bank BCA.

Bersamaan dengan kariernya yang terus menanjak, Mochtar juga rajin membeli saham-saham bank dan punya bisnis sendiri dengan bendera Lippo Bank, bagian usaha dari Lippo Group.

Kalau Sobat Kilat pernah mendengar First Media, Berita Satu, Matahari Department Store, Hypermart, Foodmart dan semua yang ada kata Lippo-nya, itu adalah bagian bisnis dari Lippo Group yang mengisi pundi-pundi kekayaan Mochtar Riady.

8. Pemilik Triputra Group, Theodore Rachmat: US$ 1,7 Miliar atau setara Rp 23,8 Triliun

orang terkaya di Indonesia ke-8

Theodore Rachmat lahir di Majalengka pada 1943 dengan nama Oei Giok Eng. Awalnya ia dikenal dengan kiprahnya sebagai pimpinan Grup Astra, perusahaan yang didirikan oleh pamannya William Soeryadjaya (Tjia Kian-Liong).

Ia memulai kariernya sebagai sales alat-alat berat Astra pada tahun 1968, setelah dia lulus, ia masuk sebagai karyawan ke-15. Pada tahun 1972, dia dipecaya untuk memulai pekerjaannya mengelola United Tractors (anak perusahaan Astra yang bergerak di bidang alat berat) hingga tahun 2005.

Selepas dari Astra, ia mendirikan perusahaan sendiri yaitu Triputra Group yang bergerak di beberapa bidang seperti karet olahan, batu bara, perdagangan, manufakturing, agribisnis, dealership motor dan logistik pada Oktober 1998.

Selain itu bersama Edwin Soeryadjaya, saudara sepupunya, ia juga turut terlibat membesarkan perusahaan tambang batu bara di Kalimantan, PT. Adaro Energy.

Sebagai seorang pengusaha sukses Theodore Rachmat juga adalah seorang filantropis yang rajin menyumbangkan kekayaannya untuk kegiatan-kegiatan sosial yang membantu sesama.

Teddy Rachmat diketahui sudah mendermakan uang sekitar Rp 70 miliar kepada A&A Rachmat Compassionate Service Foundation pada tahun 2018. Yayasan yang sebelumnya bernama Indonesia Belajar mandiri (IJARI) dan ia dirikan pada tahun 1999 tersebut bergerak di bidang pendidikan (beasiswa), kesehatan, dan kegiatan sosial lainnya.

Di bidang kesehatan, Terdapat 36 klinik kesehatan yang sudah didirikan dan tersebar di Indonesia. Lebih dari 1 juta pasien sudah dipegang oleh klinik yang didirkan oleh yayasan milik Teddy ini dan rentang waktu 2005-2015.

7. Pemilik Bank Jago, Jerry Ng: US$ 2,5 Miliar atau setara Rp 37,5 Triliun

orang terkaya di Indonesia ke-7

Jerry Ng lahir di Pontianak pada 1965. Ia adalah seorang bankir kawakan yang mencetuskan banyak inovasi di dunia perbankan Indonesia.

Sebelumnya, Jerry Ng malang melintang di dunia perbankan Indonesia selama lebih dari 30 tahun. Jerry Ng pernah menjabat sebagai Deputi Presiden Bank BCA (tahun 2001-2002), kemudian menjadi Direktur Bank Danamon (tahun 2003- 2005), Wakil Direktur Utama PT Bank Danamon Indonesia Tbk (tahun 2005-2007) dan Direktur Utama Bank BTPN (tahun 2008-2019).

Berbagai terobosan dan inovasi yang dia lakukan terlihat saat ia memimpin Bank BTPN. Dia mampu menjadikan Bank BTPN dari sebuah bank berukuran kecil dengan aset hanya Rp 10,6 triliun per Desember 2007 (padahal bank ini sudah berumur 50 tahun) menjadi bank berukuran besar dengan aset tembus Rp 101,9 triliun dan mencetak laba bersih hampir Rp 2 triliun

Setelah mengundurkan diri dari Bank BTPN, Jerry Ng memutuskan untuk mengakuisisi 51% saham PT Bank Artos Indonesia Tbk, bersama Wealth Track Technology Limited. Bank Artos kemudian dijadikan sebagai bank digital dan diberi nama Bank Jago.

Data Bursa Efek Indonesia mencatat, harga saham Bank Jago sendiri telah naik dari Rp 100 menjadi sektor Rp 10.000 sejak perusahaan eks Bank Artos ini mengumumkan menjalankan konsep neo bank (bank digital murni).

Bank Jago juga dikabarkan sedang merancang kerja sama dengan Gojek.

6. Pemilik Emtek Group, Eddy Kusnadi Sariaatmadja: US$ 3 Miliar atau Setara Rp 42 Triliun

orang terkaya di Indonesia ke-6

Eddy Kusnadi Sariaatmadja lahir di Jakarta pada 1963. Ia adalah salah satu orang yang kekayaannya mengalami kenaikan pesat di masa pandemi. Padahal, bisnis utamanya: Emtek (PT Elang Mahkota Teknologi, Tbk) merupakan grup yang menaungi perusahaan media seperti SCTV, Indosiar, O Channel, Kapanlagi Network hingga Vidio.

Di atas kertas, bisnis media sebenarnya merupakan salah satu lini yang mengalami pukulan telak sejak meledaknya pandemi COVID-19. Terbatasnya acara-acara off air membuat kue iklan ikut tergerus.

Ini terlihat dari data Nielsen Indonesia yang salah satunya menyimpulkan bahwa slot iklan cenderung mengalami penurunan hingga pengujung kuartal kedua tahun 2020 dan baru berangsur normal setelah bulan Juli.

Namun, selain berbisnis media Emtek memiliki sejumlah anak usaha di beberapa sektor, seperti jasa kesehatan dan rumah sakit, jasa layanan transaksi, VSAT hingga penjualan barang dan jasa lainnya. Inilah yang menjadi penopang pemasukan perusahaan di tengah tekananan yang dialami sebagian besar bisnis media.

Rumah Sakit EMC yang dibawah Emtek mengalami peningkatan di masa pandemi. Kemudian, Eddy juga memiliki saham dari PT Espay Debit Indonesia Koe (EDIK) yang menaungi platform digital DANA. Perusahaan ini juga mengalami peningkatan di masa pandemi.

Eddy Kusnadi Sariaatmadja bersama Emtek juga cukup agresif mencaplok saham sejumlah perusahaan start up seperti KlikDokter, Home Tester Club Indonesia, DOKU serta Bukalapak.  

5. Pemilik Mayapada Group, Dato’ Sri Tahir: US$ 3,3 Miliar atau Setara Rp 42 Triliun

orang terkaya di Indonesia ke-5
Dato’ Sri Tahir bersama Bill Gates

Dato’ Sri Tahir lahir di Surabaya pada tahun 1952. Ia lahir dari keluarga yang tergolong tidak mampu. Ayah dan ibunya menghidupi keluarga dengan membuat becak.

Tahir bercita-cita menjadi seorang dokter. Namun, cita-cita tersebut kandas pada waktu ayahnya mengalami sakit keras hingga tidak sanggup lagi membiayai keluarga. Akibatnya, Tahir harus berhenti kuliah dan melanjutkan bisnis ayahnya di Surabaya.

Kemudian ia mendapat beasiswa di sekolah bisnis Nanyang Technology University, Singapura. Sejak inilah jiwa bisnisnya mulai tumbuh. Setiap bulan ia mencari produk di Singapura untuk dijual di Surabaya. Ia membeli pakaian wanita dan sepeda di Singapura untuk dijual di Indonesia.

Pengalaman dan keberaniannya dalam berbisnis pada akhirnya membawanya menjadi seorang pengusaha muda. Dia dikenal sebagai pengusaha ulet dan memiliki bisnis yang cukup beraneka ragam dan kesemuanya sukses.

Dari garmen, lambat laun Tahir muda mulai berani memasuki bidang bisnis lain, dia masuki bidang keuangan. Diawali dari Mayapada Group yang didirikannya pada tahun 1986, bisnisnya merambat dari dealer mobil, garmen, perbankan, sampai di bidang kesehatan.

Tahun 1990 Bank Mayapada lahir menjadi salah satu bisnis andalannya. Ketika itu, bisnis garmen Mayapada tidak lagi tumbuh, justru bisnis banknya maju pesat.

Berbekal keinginannya menjadi dokter, ia tetap memelihara keinginannya dengan membangun rumah sakit Mayapada yang berlokasi di Tangerang dan Jakarta Selatan.

Melalui rumah sakit ini, Tahir memudahkan akses pelayanan kesehatan bagi anak dan orang tidak mampu. Pada peresmiannya, Rumah Sakit ini memberi pelayanan operasi jantung gratis bagi 100 pasien.

Sumbangannya yang paling dikenal adalah pada The Global Fund untuk melawan TBC, HIV dan Malaria di Indonesia. Tahir menyumbangkan uang lebih banyak dibandingkan dengan orang terkaya di dunia saat itu, Bill Gates.

Hal ini bahkan menarik perhatian Bill Gates. Aksi filantropis Tahir juga dipuji oleh Bill Gates yang juga memiliki lembaga amal Bill & Mellinda Gates Foundation.

4. Pemilik CT Corp, Chairul Tanjung: US$ 4,8 Miliar atau Setara Rp 67,2 Triliun

Chairul Tanjung bersama anaknya, Putri Tanjung
Chairul Tanjung bersama anaknya, Putri Tanjung

Diantara semua orang terkaya di Indonesia, mungkin Chairul Tanjung adalah orang yang paling populer. Ayahanda Putri Tanjung ini adalah pemilik CT Corp yang membawahi banyak lini bisnis seperti Trans TV, Trans 7, Transpark, Transmart, Bank Mega dan lain sebagainya.

Chairul Tanjung lahir di Jakarta pada tahun 1962. Ia lahir dalam sebuah keluarga yang berkecukupan. Hanya saja, di era order baru, usaha ayahnya dipaksa tutup karena berseberangan secara politik dengan penguasa saat itu.

Keadaan ini memaksa orangtuanya menjual rumah dan mereka tinggal di kamar losmen yang sempit. Di masa kuliah, Chairul Tanjung harus berusaha sendiri untuk memenuhi kebutuhan kuliah. Ia berjualan buku kuliah stensilan, kaos dan fotokopi di kampus.

Chairul Tanjung juga pernah mendirikan sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium, namun bangkrut. Lulus kuliah, Chairul mendirikan PT Pariarti Shindutama bersama rekannya. Karena ada perbedaan visi tentang ekspansi usaha, Chairul akhirnya memilih pisah dan mendirikan usaha sendiri.

Ia juga memiliki pemikiran yang cemerlang sehingga kiprah bisnis dan pemikirannya dijadikan sebuah buku yang berjudul “Chairul Tanjung Si Anak Singkong”.

Menurutnya modal memang penting dalam membangun dan mengembangkan bisnis. Namun kemauan dan kerja keras, merupakan hal paling pokok yang harus dimiliki seseorang yang ingin sukses.

Baginya mendapatkan mitra kerja yang handal adalah segalanya. Di mana membangun kepercayaan sama halnya dengan membangun integritas. Di sinilah pentingnya berjejaring dalam menjalankan bisnis.

Dalam bisnis, Chairul menyatakan bahwa generasi muda sudah seharusnya sabar, dan mau menapaki tangga usaha satu persatu. Menurutnya membangun sebuah bisnis tidak seperti membalikkan telapak tangan.

Dibutuhkan sebuah kesabaran, dan tak pernah menyerah. Jangan sampai banyak yang mengambil jalan seketika, karena dalam dunia usaha kesabaran adalah salah satu kunci utama dalam mencuri hati pasar.

Membangun integritas adalah penting bagi Chairul. Adalah manusiawi ketika berusaha, seseorang ingin segera mendapatkan hasilnya. Namun tidak semua hasil bisa diterima secara langsung.

Berkat kinerja dan pemikirannya yang luar biasa. Chairul sempat diangkat menjadi Menko Perekonomian Indonesia di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2014.

3. Pemilik Barito Group, Prajogo Pangestu: US$ 6,5 Miliar atau Setara Rp 91 Triliun

Orang terkaya di Indonesia ke-3

Prajogo Pangestu lahir dengan nama Phang Djoem Phen di Kalimantan Barat, pada tahun 1944. Terlahir dari keluarga miskin mengharuskan Prajogo hanya menamatkan sekolahnya sampai tingkat menengah pertama.

Untuk mengubah nasib, Parajogo merantau ke Jakarta. Namun, ia tidak terlalu beruntung tinggal di Ibukota Indonesia karena tidak kunjung mendapatkan pekerjaan. Oleh karena itu, ia memutuskan kembali ke Kalimantan dan bekerja menjadi sopir angkutan umum.

Saat menjadi pengemudi, pada tahun 60-an, Prajogo mengenal pengusaha kayu asal Malaysia yang bernama Bong Sun On alias Burhan Uray. Pada tahun 1969 dia bergabung dengan Burhan Uray di PT Djajanti Group. Berkat kerja kerasnya, tujuh tahun kemudian Burhan memberikan jabatan General Manager (GM) Pabrik Plywood Nusantara di Gresik, Jawa Timur kepada Prajogo.

Namun, Prajogo menjadi GM di pabrik Plywood hanya setahun dan keluar untuk memulai bisnis sendiri dengan membeli CV Pacific Lumber Coy, yang ketika itu sedang mengalami kesulitan keuangan. Prajogo membayarnya dengan uang pinjaman Bank BRI dan dia lunasi hanya dalam setahun.

Dalam perjalanannya, Prajogo mengganti nama Pacific Lumber menjadi PT Barito Pacific. Kemudian bisnisnya terus meningkat hingga bekerja sama juga dengan anak-anak Presiden Soeharto dan pengusaha lainnya demi memperlebar bisnisnya. Bahkan Prajogo Pangestu menduduki peringkat ke 40 orang terkaya Indonesia.

Pada era Presiden Soeharto, Prajogo termasuk salah satu konglomerat ternama yang dimiliki Indonesia. Bisnisnnya dengan bendera Barito Group berkembang luas di bidang  petrokimia, minyak sawit mentah, properti, perkayuan. Kini Barito Group dipegang generasi anaknya, Agus Salim Pangestu.

2. Pemilik Djarum dan Bank BCA, Michael Hartono: US$ 19,7 Miliar atau Setara Rp 276 Triliun

Michael Hartono saat meraih medali perunggu pada olahraga Bridge di Asian Games 2018

Michael Hartono lahir di Semarang pada tahun 1939. Bambang dan adiknya, Robert Budi Hartono, mewarisi Djarum setelah ayah mereka, Oei Wie Gwan, meninggal pada tahun 1963. Oei Wie Gwan meninggal tidak lama setelah pabrik rokok Djarum terbakar habis.

Berkat pandangan Michael yang visioner, ia pun mulai memodernisasikan peralatan produksinya sesuai perkembangan teknologi. Hal ini pun meningkatkan produktivitas mereka hingga perolehan penjualan. Hingga pada tahun 1972, Djarum pun memasuki pasar ekspor.

Inovasi produk Djarum yaitu Sigaret Kretek Tangan (SKT) dan Sigaret Kretek Mesin (SKM). Produk SKT adalah Djarum 76 dan Djarum 12, sedangkan produk SKM adalah Djarum Super, La Lights, Djarum Mezzo, Djarum Black.

Sukses berbisnis roko, Michael pun melebarkan sayap Djarum Group hingga memiliki bidang properti, perhotelan, perbankan, dan agribisnis. Michael Hartono juga membuka bisnis properti dengan anak perusahaannya, PT CKBI.

Selain itu, Djarum juga memiliki Hotel Indonesia dan Inna Wisata. Dalam dunia perbankan, Djarum terkenal berkat kepemilikan saham di PT BCA sebanyak 50,24%. Hal ini menjadikan Michael Bambang Hartono dan saudaranya, Robert Budi Hartono sebagai pemilik Bank BCA dan menjadi orang terkaya di Republik Indonesia.

Michael Hartono juga memiliki hobi bermain Bridge. Bukan hanya hobi, bahkan ia sempat mengikuti Asian Games 2018 dan mendapat medali perunggu.

1. Pemilik Djarum dan Bank BCA, Robert Budi Hartono: US$ 20,5 Miliar atau Setara Rp 287 Triliun

Orang terkaya di Indonesia

Robert Budi Hartono lahir di Semarang pada tahun 1940. Ia adalah adik kandung dari Michael Hartono. Bersama saudaranya itu ia membesarkan Djarum bersama-sama.

Selain Djarum, Robert dan Michael adalah pemegang saham terbesar di Bank Central Asia (BCA). Mereka berdua melalui Farindo Holding Ltd. menguasai 51 % saham BCA. Selain itu, mereka juga memiliki perkebunan kelapa sawit seluas 65.000 hektare di Kalimantan Barat sejak tahun 2008, serta sejumlah properti di antaranya pemilik Grand Indonesia dan perusahaan elektronik.

Salah satu bisnis Group Djarum di sektor ini bergerak di bawah bendera Polytron yang telah beroperasi lebih dari 30 tahun. Perusahaan Polytron ini kini juga memproduksi ponsel yang sebelumnya hanya meproduksi AC, kulkas, produk video dan audio, dan dispenser.

Melalui perusahaan yang baru dibuat yakni Ventures Global Digital Prima, Global Digital Niaga (Blibli.com), mereka juga membeli Kaskus, situs Indonesia yang paling populer.

Robert sangat menyukai olahraga bulu tangkis. Bermula dari sekadar hobi, ia kemudian mendirikan PB Djarum pada tahun 1969. Salah satu pemain bulu tangkis yang berasal dari PB Djarum adalah Liem Swie King, yang terkenal dengan julukan “King Smash”.

Djarum sendiri memiliki kiprah besar dalam perekonomian Indonesia. Mereka juga menjadi salah satu penyumbang pajak terbesar di Indonesia. Tak hanya dalam berbisnis, Djarum juga memiliki program CSR yang peduli terhadap masyarakat dan lingkungan.

Nah, gimana Sobat Kilat? Ternyata banyak dari 10 orang terkaya di Indonesia ini sempat merasakan kehidupan yang pedih dengan minim privilege, loh! Jadi, jangan jadikan keadaanmu sebagai alasan ketidaksuksesan dan menyalahkan privilege orang lain.

Sebaiknya, kita berkaca pada diri sendiri dan berusaha keras. Salah satu pelajaran dari orang terkaya ini adalah hampir semuanya adalah bankir atau paling tidak sangat paham tentang cara mengelola keuangan.

Ikuti terus blog Dompet Kilat untuk mendapatkan tips-tips dan ilmu soal dunia keuangan. Siapa tahu Sobat Kilat nanti bisa masuk dalam daftar 10 orang terkaya di Indonesia juga!

Penulis: Fadhel Yafie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © PT Indo Fin Tek 2016 - 2021