Sebagai seorang calon investor sukses, atau siapapun yang ingin memiliki pengelolaan keuangan yang baik, ada kalanya kita wajib memperhatikan fenomena-fenomena makroekonomi yang sedang terjadi di dunia kita berada saat ini. Hal ini agar kita selalu waspada terhadap kemungkinan-kemungkinan terburuk yang mungkin dapat menimpa kita. Musibah ekonomi yang terjadi secara makro, sebut saja krisis 1998 dan 2008 sebagai contoh, pada akhirnya akan menimpa kita juga sebagai individu melalui berbagai macam cara. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas suatu hal yang sedang happening dan menjadi perhatian utama seluruh dunia dikarenakan kemungkinan dampaknya yang dahsyat, resesi ekonomi. Jangan khawatir, tulisan ini akan dikemas se-simpel mungkin agar memudahkanmu memahami pengetahuan baru ini!

Resesi Ekonomi

Resesi secara harfiah berarti kondisi dimana pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) suatu negara mengalami penurunan secara dua kuartal berturut-turut. PDB sendiri terdefinisi sebagai jumlah total barang dan jasa yang beredar di dalam suatu perekonomian. Imbas dari penurunan PDB adalah berkurangnya total produksi dan konsumsi dalam negeri yang terwujud dalam berkurangnya jumlah produksi nasional, menurunnya investasi, meningkatnya pengangguran, meningkatnya inflasi, hingga terganggunya kestabilan mata uang. Secara umum, perlu dipahami bahwa resesi adalah perlambatan dari pertumbuhan suatu perekonomian negara.

Sepanjang sejarah, Indonesia hanya pernah satu kali mengalami resesi hebat, dimana pertumbuhannya mencapai angka -13%, yaitu saat krisis 1998. Satu per tujuh dari pie perekonomian Indonesia lenyap di tahun tersebut. Namun, fenomena yang terjadi saat ini bukan berasal dari Indonesia. Kita juga perlu memahami perekonomian dunia dan imbasnya terhadap Indonesia karena dunia ini semakin ter-integrasi seiring perkembangan zaman.

Figur 1: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 1961-2018. Sumber: World Bank (2019)

Resesi AS dan Dampaknya terhadap Indonesia

Kurva imbal hasil, atau yield curve, milik AS sedang mengalami fenomena yang disebut sebagai inverted yield curve. Fenomena tersebut adalah suatu kondisi dimana spread atau perbedaan imbal hasil antara obligasi pemerintah AS (US Treasury Bonds) yang berusia 3 bulan dan 10 tahun semakin tipis. Hal ini mengindikasikan adanya kecenderungan investor global untuk berinvestasi di instrumen bersifat jangka panjang karena mereka “tidak percaya” terhadap kondisi perekonomian global saat ini. Fenomena ini telah memprediksi resesi di AS secara tepat hingga sepuluh kali sepanjang sejarah. Lantas, bagaimana pengaruhnya terhadap Indonesia?

Investor yang panik akan kondisi perekonomian dunia seringkali akan menarik dananya dari pasar-pasar “fluktuatif” seperti di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, dan mengalokasikan dananya ke pasar yang lebih stabil. Hal ini cukup mengkhawatirkan mengingat kepemilikan asing di pasar saham dan pasar Surat Utang Negara (SUN) Indonesia mencapai 40-50%. Hal ini sangat mungkin untuk menyebabkan pelemahan yang substansial akan harga berbagai instrumen investasi di Indonesia bilamana sebuah shock terjadi.

Figur 2: Spread dari US Treasury Bond 3 bulan dan 10 tahun. Sumber: CNBC (2019)

Selain itu, imbas buruk juga dapat terjadi dari menurunnya ekspor Indonesia ke AS dan negara-negara lain yang “ikut melemah” dikarenakan resesi AS. Ketika negara-negara tersebut mengalami perlambatan ekonomi, maka permintaan mereka atas barang dan jasa seluruh dunia (termasuk Indonesia) juga berkurang. Per Februari 2019 saja, 11,5% dari total ekspor non-migas Indonesia berasal dari AS. Hal ini sangat mungkin untuk memperparah defisit dari Transaksi Berjalan Indonesia yang bahkan sudah mencapai batasan 3% dari PDB.

Apa yang bisa dilakukan?

Sebagai seorang investor individual, yang perlu kita lakukan hanyalah untuk menabung dan ber-investasi lebih banyak untuk mempersiapkan diri akan fenomena yang memiliki kemungkinan cukup tinggi untuk terjadi ini. Tanam lah uang-mu di instrumen-instrumen yang memiliki volatilitas rendah dan likuiditas tinggi, seperti obligasi negara dan emas. Sama seperti kehidupan pada umumnya, hal yang paling utama untuk dilakukan setiap kali akan terjadi musibah adalah bersikap tidak panik dan mempersiapkan diri sedini mungkin.

Ditulis oleh Fadli Jihad Dahana S

Referensi

https://data.worldbank.org/indicator/NY.GDP.MKTP.KD.ZG?end=2018&locations=ID&start=2018&view=bar

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4484242/as-terancam-resesi-apa-sih-dampaknya-ke-ri

https://www.simulasikredit.com/apa-itu-resesi-ekonomi-indikator-suatu-negara-memasuki-resesi/

https://www.cnbc.com/2019/05/29/us-bonds-wall-street-monitors-fresh-batch-of-economic-data-auctions.html

https://www.cnbcindonesia.com/market/20190325114652-17-62687/kalau-as-resesi-memangnya-kenapa-ada-pengaruh-buat-ri

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here