kelola keuangan

Generasi milennials memang dianggap sebagai generasi paling kreatif dan produktif. Tidak heran mengingat generasi milennials hidup di era pertumbuhan teknologi yang pesat. Tapi, sayangnya, generasi milennials ini dihadapkan pada sebuah problematika yang tidak bisa dianggap remeh, yaitu sulitnya mengelola keuangan.

Hal itu sebetulnya sudah bukan rahasia umum lagi. Karena saat ini generasi milennial dihadapkan pada tuntutan yang kerap tak sesuai dengan pendapatan. Seperti tingginya harga rumah, budaya traveling yang menggoda, biaya menikah yang mahal, hingga budaya konsumtif yang sulit terhindarkan. Sementara kebanyakan generasi milennials yang senang untuk tidak terikat ini memiliki pendapatan yang tergolong pas-pasan untuk kebutuhan pribadinya.

Karena itu, generasi milennials harus belajar untuk lebih pintar dalam mengelola keuangan sejak ini. Kenapa penting? Jawabannya simple, supaya di masa mendatang kamu masih bisa membeli apa yang kamu inginkan tanpa harus mengurangi uang makan.

1. Mulai kurangi sumber pengeluaran yang tidak perlu

Jiwa muda generasi milennials umumnya sulit untuk memisahkan mana pengeluaran yang dirasa perlu dan mana yang tidak. Padahal, dengan menyetop sumber pengeluaran yang tidak perlu akan sangat berdampak pada saldo rekening di akhir bulan. Beberapa contoh sumber pengeluaran yang tidak perlu, seperti biaya ngopi yang sampai Rp100 ribu per hari, biaya traveling sebulan sekali yang memakan biaya minimal Rp1 juta, biaya membeli baju dan celana hanya untuk memenuhi hasrat kekinian minimal Rp1 juta tiap bulan, atau biaya nongkrong rutin ke club dan kafe setiap minggu minimal Rp1 juta.

Seandainya seluruh sumber pengeluaran yang tidak perlu di atas dihentikan atau minimal dikurangi, sudah pasti saldo rekening akan lebih tebal. Sebagai contoh, kebiasaan ngopi setiap hari dikurangi. Begitu pun kebiasaan traveling setiap bulan bisa dikurangi menjadi 3 bulan sekali dengan tetap menekan biaya.

Kemudian hasrat untuk membeli baju dan celana setiap bulan pun dihilangkan. Jadi hanya membeli baju dan celana saat butuh. Lalu pangkas juga biaya nongkrong ke club dan kafe setiap minggunya. Kalau pun mau tetap ikut nongkrong di kafe setiap minggu, usahakan untuk tidak mengeluarkan uang lebih dari Rp300ribu.

2. Mulai sisihkan uang sedikit demi sedikit dari awal

Saat masih sekolah, mungkin kita bisa menyisihkan sebagian uang jajan di dalam celengan. Uang yang kita sisihkan itu biasanya adalah uang jajan yang sisa. Tapi, apa kebiasaan tersebut bisa kita lakukan saat sudah bekerja sekarang? Pastinya enggak! Kenapa? Karena semakin dewasa akan semakin banyak hasrat yang membuat kita ingin terus mengeluarkan uang yang ada di rekening. Selama saldo di rekening masih ada, maka kita tidak pernah ragu untuk mengeluarkannya.

Lalu bagaimana cara menyiasatinya? Mulai sekarang sisihkanlah uang yang kamu punya sedari awal mendapatkannya. Misal dari uang gaji atau upah freelance, maka segeralah untuk menyisihkannya. Terserah dengan cara apa. Bisa dengan memasukkannya ke celengan atau memindahkannya ke rekening yang berbeda.

Tapi, sebelum menyisihkannya, kamu perlu secara teliti menghitung betul kebutuhan selama satu bulan. Misal, kamu harus menghitung biaya transportasi dan makan selama sebulan, lalu biaya pulsa sebulan, biaya kost, dan infaq/zakat. Setelah dihitung, uang sisa itulah yang perlu disisihkan.

Perlu diingat, tidak apa sekalipun hanya bisa menyisihkan sedikit setiap bulan. Ingat saja prinsip bahwa ‘sedikit itu masih lebih baik daripada tidak sama sekali’.

3. Harus punya target dan tujuan

Bila ingin cerdas dalam mengelola keuangan, hal yang harus kamu miliki adalah target dan tujuan. Memiliki target dan tujuan akan membuat kita lebih terpacu dan termotivasi agar tidak boros. Target dan tujuan ini bisa terbagi tiga, yaitu jangka pendek, menengah, dan panjang.

Untuk target jangka pendek biasanya cenderung lebih cepat untuk dicapai. Misal, kamu bisa membuat target ingin bisa traveling ke Raja Ampat di tahun ini atau ingin bisa berinvestasi emas senilai 100 gram di tahun ini.

Kemudian untuk jangka menengah, kamu bisa membuat target ingin dapat membeli sepeda motor atau mobil impian 2-3 tahun dari sekarang. Lalu untuk jangka panjang, kamu memiliki target dapat membeli rumah impian 5-7 tahun mendatang, atau menargetkan ingin membeli saham Telkomsel 5-8 tahun ke depan.

Bila sudah menentukan target dan tujuan, jangan lupa untuk menuliskannya. Dengan begitu, kamu akan selalu ingat apa yang menjadi prioritas saat ini.

4. Mulailah investasi yang kecil-kecil

Investasi jauh lebih baik daripada hanya mengendapkan uang di rekening. Karena sebanyak apa pun uang yang disimpan di rekening, jumlahnya tak akan bertambah jika bukan kamu yang menambahkannya sendiri. Lain hal dengan investasi. Jumlah uangnya bisa bertambah berkali-kali lipat tanpa kamu harus menambahkannya sendiri. Artinya, ada perputaran uang dalam investasi.

Berinvestasi pun tak harus selalu yang besar-besar. Kamu bisa kok memulai investasi dari hal kecil. Misal, mencicil membeli emas 1 gram setiap bulan dengan menyisihkan uang sekitar Rp650.000. Memang terkesan berat di awal, tapi ingatlah kalau emas tidak akan berpengaruh terhadap inflasi. Nilainya akan terus naik setiap tahun.

Kamu juga bisa mengambil investasi beruba peluang bisnis atau waralaba. Misal, mengambil waralaba minuman es cincau. Umumnya, peluang bisnis ini relatif murah untuk modal awal, sekitar Rp7-8 juta. Kalau untuk bisnis, memang di awal kita terkesan akan ‘membuang’ uang. Tapi, saat sudah berjalan, setiap bulan kita akan mendapat keuntungan yang lambat laun bisa menutupi modal. Tapi, kalau mau ambil peluang bisnis ini haruslah jeli. Lihatlah produknya, apakah berpotensi laku atau tidak.

5. STOP berhutang untuk memenuhi hasrat konsumtif

Berhutang bukanlah sesuatu yang buruk. Tapi selama itu bukan untuk memenuhi hasrat konsumtif. Seperti untuk memenuhi hasrat belanja barang branded, nongkrong bareng teman di resto mahal, sampai ikut traveling ke luar negei. Lalu, hutangnya dibayar setiap kali gajian. Tapi sehabis itu, berhutang lagi. Kalau sampai terjadi, ini namanya gali lobang-tutup lobang.

Padahal, berhutang jauh lebih bermanfaat kalau digunakan untuk sesuatu yang produktif. Seperti apa? Misalkan untuk menambah modal bisnis, untuk membayar uang muka sepeda motor yang mau digunakan untuk ngojek, atau membayar uang muka mobil untuk taksi online. Berhutang untuk hal-hal semacam itu jauh lebih berguna karena dapat membawa perputaran roda ekonomi bagi kamu dan orang sekitar.

Sebagai generasi milennials, kita bukan hanya dituntut untuk cerdas dalam mencari uang, tapi juga harus cerdas dalam mengelola keuangan. Jangan sampai kita menjadi generasi yang berfoya-foya di masa muda tapi justru meminta-minta di masa tua nanti. Jadi, mulailah kelola keuanganmu dengan baik mulai hari ini, ya!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here